Kreteria kemampuan Therapis Prana

Kreteria kemampuan yang harus dimiliki Therapis Prana.

PEMBUKAAN
Panduan

ini bertujuan untuk menjadi sumber acuan dalam menilai kompetensi seorang manusia dalam melakukan terapi Prana terhadap manusia lain.
Penyusunan Panduan  dilakukan setelah melakukan observasi yang cukup panjang terhadap praktek-praktek terapi prana yang berlangsung di masyarakat selama ini,

DEFINISI PRANA


Segala jenis energi yang secara langsung digunakan dan dihasilkan oleh makhluk hidup.

LANDASAN TEORI TERAPI PRANA


Tubuh manusia pada dasarnya adalah sebuah mesin yang memiliki berbagai komponen super canggih, yang beroperasi dengan menerima, menggunakan dan menghasilkan Prna. Komponen-komponen dari tubuh manusia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok hardware atau biasa dikenal dengan tubuh fisik, dan kelompok software atau biasa dikenal dengan sukma atau tubuh mental. Hampir semua komponen tubuh manusia memiliki fungsi untuk melakukan reparasi bila terjadi kerusakan pada dirinya, akan tetapi fungsi ini seringkali tidak berjalan apabila terjadi gangguan sistem, atau terjadi kekurangan Prana. Terapi Prana bertujuan untuk memulihkan dan memaksimalkan kemampuan reparasi tersebut.

ISI PANDUAN

I. PENGETAHUAN


Bagian ini menjelaskan pengetahuan yang harus dimiliki oleh para terapis Prana.


I.1. JENIS-JENIS PRANA YANG ADA DI TUBUH MANUSIA


Energi sistem endokrin (kelenjar)
Energi sistem reproduksi
Energi sistem pencernaan
Energi sistem peredaran darah
Energi sistem respiratori (pernafasan)
Energi sistem syaraf
Energi sistem pengendalian mental

I.2. SISTEM TUBUH FISIK


Struktur anatomi umum tubuh manusia dan fungsinya:
Struktur tulang
Struktur otot
Struktur organ dalam
Sistem peredaran darah
Sistem endokrin
Sistem pernafasan
Sistem pencernaan
Sistem pembuangan
Sistem reproduksi

I.3. SISTEM TUBUH MENTAL


Struktur kanal Prana di tubuh manusia dan fungsinya:
Kanal sistem endokrin
Kanal sistem reproduksi
Kanal sistem pencernaan
Kanal sistem peredaran darah
Kanal sistem pernafasan
Kanal sistem syaraf
Kanal sistem pengendalian mental
Kanal jembatan energi dingin
Kanal jembatan energi panas
Kanal jembatan tengah
Extra sensory perception:
Clairsentience
Clairvoyance

I.4. INTERDEPENDENSI ANTARA TUBUH FISIK DAN TUBUH MENTAL


Perubahan apa saja yang terjadi pada tubuh fisik yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh mental dan perubahan apa saja yang terjadi pada tubuh mental yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh fisik.

I.5. MINERAL DAN GIZI


Mineral yang berpotensi bermanfaat
Mineral yang berpotensi mengganggu
Dampak kekurangan atau kelebihan gizi

I.6. MIKROBA


Hubungan antara mikroba dan bioenergi di tubuh manusia
Jenis mikroba yang berinteraksi dengan bioenergi di tubuh manusia
Jenis mikroba yang tidak berinteraksi dengan bioenergi di tubuh manusia

II. KEAHLIAN


Bagian ini menjelaskan keahlian yang harus dimiliki oleh para terapis bioenergi.

II.1 DETEKSI


II.1.A. BATASAN DETEKSI PRANA


Deteksi Prana dapat diandalkan untuk mengetahui keberadaan gangguan kesehatan atau melacak sumber gangguan kesehatan, akan tetapi deteksi bioenergi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya sumber acuan untuk menyusun diagnosa terhadap kondisi kesehatan pasien. Pemantauan visual, dialog dengan pasien dan deteksi fisik pasien harus diperhitungkan sebagai sumber-sumber acuan yang berimbang.

II.1.B. DETEKSI DENGAN PERABAAN AURA


Kemampuan melakukan deteksi dengan perabaan aura adalah kemampuan paling dasar yang harus dimiliki oleh semua terapis prana.

II.1.C. DETEKSI DENGAN CLAIRSENTIENCE


Kemampuan melakukan deteksi dengan clairsentience (merasakan) adalah kemampuan yang dapat dilatih dan dimiliki oleh terapis prana, akan tetapi harus digunakan dengan sangat berhati-hati karena bersifat multiinterpretasi dan rentan terhadap gangguan halusinasi bila terapis gagal menetralkan emosi.

II.1.D. DETEKSI DENGAN CLAIRVOYANCE


Kemampuan melakukan deteksi dengan clairvoyance (melihat) adalah kemampuan yang dapat dilatih namun hanya dapat diandalkan bila sudah kemampuan terapis dalam hal ini sudah lolos uji.

II.2 DIAGNOSA


Mampu membuat diagnosa kerja tentang kondisi pasien.
Mampu memberikan prognosis tentang tindakan terapi.

II.3 TERAPI


II.3.A. TEKNIK-TEKNIK TERAPI


Setiap jenis prana membutuhkan teknik yang berbeda untuk penggunaannya; semua terapis prana minimal harus sudah menguasai dengan baik penggunaan satu jenis prana.

II.3.B. TERAPI JARAK DEKAT VS TERAPI JARAK JAUH


Sebagian jenis Prana hanya bisa dialirkan dari terapis ke pasien pada jarak dekat, sedangkan jenis lain dapat dialirkan dari terapis ke pasien pada jarak jauh. Selain itu kondisi pasien sendiri terkadang tidak memungkinan untuk terapi dilakukan pada jarak dekat, atau malah tingkat keparahan penyakit dapat membuat terapi jarak jauh tidak efektif. Terapis harus dapat mengevaluasi hal ini.

II.3.C. TERAPI LEWAT PROXY


Menjadi anggota penyembuhan berkelompok
Menjadi pemimpin penyembuhan berkelompok
Memberikan prana pada orang yang diketahui untuk menerapi pasien yang tidak diketahui. (opsional)

II.3 KONSELING


Konseling dibutuhkan bila pasien didiagnosa menderita gejala psikosomatik. Keahlian ini dapat dimiliki oleh terapis prana yang menjalani pendidikan profesi, atau yang sudah berpengalaman.

II.3.A. PENELUSURAN SUMBER MASALAH


Menguasai metoda induktif dan deduktif untuk memahami kondisi kehidupan pasien berdasarkan bahasa tubuh dan pembicaraan pasien.

II.3.B. PEMANFAATAN SUGESTI DAN EFEK PLASEBO


Mengatur kondisi terapi, menyesuaikan kalimat pembicaraan dan menuntun pasien untuk meyakini bahwa masalahnya sudah dihilangkan.

II.3.C. PENANGANAN PASIEN DENGAN MASALAH KEJIWAAN SERIUS


Memberikan rekomendasi pada keluarga pasien bagaimana meminimalisir dampak negatif kondisi pasien pada lingkungannya, sambil sebisa mungkin memperbaiki kondisi kejiwaan pasien.

III. PROSES


Langkah-langkah yang harus diambil oleh seorang terapis dalam melakukan terapi.

III.1 PENENTUAN TEKNIK YANG SESUAI


Terapi dilakukan setelah diagnosa, dan hanya bila terapis menguasai teknik terapi yang sesuai untuk pasien.

III.2 EVALUASI HASIL TERAPI


Terapis harus melakukan evaluasi terhadap perkembangan pasien. Bila dalam 3 hari atau 3 kali terapi kondisi pasien sama sekali tidak menunjukkan kemajuan, terapis harus berusaha mengidentifikasi bila ada faktor luar yang menyebabkan terapi tidak efektif. Bila tidak ditemukan adanya faktor luar, atau bila faktor luar telah disingkirkan tapi kondisi pasien tetap tidak menunjukkan kemajuan, terapi harus dihentikan.

III.3 TUNTUNAN PEMULIHAN


Terapis harus memberikan rekomendasi pada pasien bagaimana supaya kondisi kesehatan pasien bisa pulih total, atau minimal menjadi sebaik mungkin, dan bagaimana supaya pasien tidak mengalami kekambuhan penyakit.

IV. CARA BERPIKIR


Cara berpikir yang harus dimiliki untuk menjadi terapis yang handal.

IV.1 BASIS LOGIKA


Terapis harus berpegang teguh pada logika.

IV.2 BASIS EMPIRIS


Terapis harus mengutamakan bukti nyata sebagai sumber acuan utama.

IV.3 BASIS KETERBUKAAN PIKIRAN


Terapis tidak boleh mengabaikan informasi-informasi yang diperoleh, hanya karena terdengar aneh. Selama informasi tersebut tidak bertentangan dengan logika, berarti masih dapat dijadikah sebagai bahan acuan.

V. SIKAP MENTAL


Sikap mental yang harus diambil oleh terapis dalam penanganan pasien.

V.1 KETENANGAN


Terapis tidak boleh terlalu terlibat secara emosional terhadap kasus pasien.

V.2 TIDAK BERPRASANGKA


Terapis tidak boleh membuat asumsi tanpa adanya bukti-bukti pendukung.

V.3 TANPA DISKRIMINASI


Terapis harus memandang bahwa semua pasien adalah sama derajadnya, dan dirinya sendiri juga sama derajadnya.

VI. SIKAP MORAL


Sikap moral yang harus diikuti oleh terapis agar tidak mengakibatkan pencemaran nama profesi.

VI.1 TIDAK MENGADA-ADA


Terapis tidak boleh membuat pernyataan-pernyataan yang dirinya sendiri tidak yakin akan kebenarannya.

VI.2 MENJAGA ETIKA


Terapis harus memahami etika sosial yang berlaku di masyarakat tempat dia berpraktek, dan menjaga agar tindakannya tidak melanggar etika tersebut.

VI.3 MENOLAK PENGKULTUSAN


Terapis harus menolak tindakan atau perkataan yang dapat mengarah pada pengkultusan dirinya.

APPENDIX

JENIS-JENIS PRANA YANG ADA DI TUBUH MANUSIA


Energi sistem endokrin (kelenjar)
Adalah jenis prana yang dihasilkan dan digunakan oleh kelenjar-kelenjar dan dalam proses pembelahan sel-sel induk (stem cell) untuk membentuk sel-sel baru, dan ketika sel-sel yang sudah rusak dihancurkan untuk proses daur ulang atau pembuangan.
Energi sistem reproduksi
Adalah jenis prana yang dihasilkan dan digunakan dalam pembentukan sel telur dan sperma, serta pada saat terjadinya stimulasi seksual.
Energi sistem pencernaan
Adalah jenis prana yang hampir seluruhnya didapatkan dari pengolahan makanan di sistim pencernaan, dan hampir seluruhnya digunakan oleh tubuh fisik
Energi sistem peredaran darah
Adalah jenis prana yang dihasilkan dan digunakan oleh jantung, ginjal, liver, pankreas dan pembuluh darah..
Energi sistem respiratori (pernafasan)
Adalah jenis prana yang mayoritasnya didapatkan dari proses respiratori, yakni ketika O2 diserap dan CO2 dilepaskan.
Energi sistem syaraf
Adalah jenis prana yang dihasilkan dan digunakan oleh otak dan sumsum tulang belakang untuk mengirimkan sinyal-sinyal instruksi ke pembuluh syaraf di seluruh tubuh.
Energi sistem pengendalian mental
Adalah jenis prana yang dihasilkan dan digunakan oleh tubuh mental untuk mempertahankan atau mengubah kondisi emosional dan mental.

KANAL-KANAL PRANA  DI TUBUH MANUSIA


Hampir seluruh tubuh manusia dipenuhi oleh prana, akan tetapi penyebaran dan peredarannya bisa teratur karena adanya kanal-kanal yang menjadi pusat-pusat pengaturan aliran prana. Sebagai kanal prana, kanal-kanal ini menghubungkan antara tubuh fisik dan tubuh mental. Walau jumlah kanal yang ada cukup banyak, namun sebagian besar adalah kanal-kanal kecil dan bersifat local. Dari semua kanal yang ada, 7 diantaranya adalah kanal besar dan mempengaruhi aliran bioenergi diseluruh tubuh. Dalam kehidupan sehari-hari, kanal-kanal ini lazim dikenal dengan sebutan Cakra.
Ketujuh kanal utama prana adalah:
Kanal sistem endokrin (cakra dasar/mooladara)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental pada pertemuan antara tulang ekor dan tulang belakang. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat mengakibatkan demam, nyeri punggung,halusinasi dan depresi.
Kanal sistem reproduksi (cakra seks/swadhistana)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental pada jembatan antara kedua prostat (pria)dan jembatan kedua indung telur (wanita). Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat menyebabkan keletihan, libido rendah atau berlebihan, dan insomnia
Kanal sistem pencernaan (cakra solar plexus/manipura)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental di pertemuan antara lambung dan usus. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat menyebabkan paranoia dan kelesuan
Kanal sistem peredaran darah (cakra jantung/anahata)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental di posisi pusat tubuh fisik dan tubuh mental. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat mengakibatkan kekacauan sirkulasi darah, gangguan indra peraba, alergi dan kelainan hormon.
Kanal sistem pernafasan (cakra tenggorokan/wisidha)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental di pangkal bawah tenggorokan. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat mengakibatkan gangguan indra penciuman, pendengaran, pengecap, dan pernafasan.
Kanal sistem syaraf (cakra ajna)
Kanal ini menghubungkan tubuh fisik dan tubuh mental di optical chiasm. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat mengakibatkan gangguan indra penglihatan dan menimbulkan schizophrenia.
Kanal sistem pengendalian mental (cakra mahkota/sahasrara)
Kanal ini hampir seluruhnya berfungsi untuk tubuh mental. Gangguan pada fungsi kanal ini diketahui dapat mengakibatkan koma atau kegilaan.

Selain ketujuh kanal diatas, ada 3 kanal besar lagi yang fungsinya adalah menjadi jembatan antara ketujuh kanal utama. 3 kanal ini terdiri dari satu kanal tengah( Susumana Nadhi) yang bersifat netral, serta dua kanal yang melilit kanal tengah, yang satunya bersifat panas ( Ida Nadhi )dan satu lagi bersifat dingin( Pinggala Nadhi). Gangguan pada fungsi kanal dingin diketahui mengakibatkan suhu tubuh naik, gangguan pada fungsi kanal panas diketahui mengakibatkan suhu tubuh turun, sedangkan gangguan pada kanal tengah melemahkan aliran prana pada ketujuh kanal utama.
Clairsentience
Kemampuan mendeteksi Prana dengan memanfaatkan syaraf-syaraf indera peraba, ada yang digunakan secara murni dirasakan, tapi ada juga yang diterjemahkan dalam bentuk gambaran dengan memanfaatkan kelenjar pineal
Clairvoyance
Kemampuan mendeteksi pranai dengan memanfaatkan syaraf-syara indera penglihatan.

Transfer prana
Transfer bprana tidak membutuhkan adanya sentuhan antara terapis dan pasien. Pada setiap transfer energi, terapis berfungsi sebagai transmitter dan pasien sebagai receiver. Ada 3 jenis transmisi energi yang dapat dilakukan oleh terapis, yakni transmisi melebar, transmisi pencarian dan transmisi terarah. Transmisi melebar
Adalah ketika terapis melakukan transmisi kesegala arah tanpa mengetahui siapa pasiennya, dan transfer pranahanya akan terjadi bila pasien mengaktifkan kanal-kanal prana untuk menyerap energi yang mencapai lokasinya.

Transmisi pencarian
Adalah ketika terapis melakukan transmisi awal untuk mendeteksi lokasi pasien yang dikenal identitasnya. prana yang ditransmisikan akan memantul kembali ke terapis bila berhasil mencapai lokasi pasien.
Transmisi terarah
Adalah ketika lokasi pasien diketahui oleh terapis; jenis transmisi ini adalah yang paling efektif dalam melakukan terapi prana.
Terapi jarak dekat
Yang dimaksud dengan terapi jarak dekat adalah tindakan terapi yang dilakukan ketika pasien berada dalam ruang pandang terapis.
Terapi jarak jauh
Yang dimaksud dengan terapi jarak jauh adalah tindakan terapi yang dilakukan ketika pasien tidak berada dalam ruang pandang terapis. Jenis-jenis prana yang dapat ditransfer jarak jauh dan melewati berbagai benda dalam perjalanannya adalah yang sangat rendah frekuensinya (kurang dari 1 HZ/ Prana dalam tingkat Wyadnyana maya kosa), namun tentu saja semakin jauh jaraknya, semakin berkurang jumlah prana yang berhasil mencapai lokasi pasien

Guru Made Sumantra

Yayasan Windhu Siwa Yoga

Yoga Healing Bali.

Jalan Lungsiakan, Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali.

087861187825,

www.yogahealingbali.com

 

SELAMAT DATANG
Di Website
YOGA HEALING BALI
Balinese Yoga Healing
And Training

Jajak Pendapat

Program Yoga Apa Yang Paling Anda Minati?

View Results

Loading ... Loading ...

Pengunjung

  • Today Visit: 567
  • Yesterday Visit: 473
  • Month Visit: 10951
  • Total Visit: 160054
ubudyogahealingcentre
denpasarypgahealingcentre

Facebook Kami

Jobs, Cars and Top Windows VPS, Cloud Hosting by http://www.accuwebhosting.com/ - rock solid VPS Hosting.