Wejangan Maha Rsi Markandeya

Wejangan Maha Rsi Markandeya

(Upanisad )

Kata “Upanisad” berarti pengetahuan yang disampaikan oleh seorang Guru, yang telah menguasai pengetahuan dari wahyu suci, kepada muridnya, yang duduk di dekatnya. Kitab-kitab Veda juga merupaka Wahyu suci menyediakan dua jenis pengetahuan atau vidya yakni para-vidya dan apara-vidya. Apara-vidya terdiri atas pengetahuan-pengetahuan yang mengantarkan ke-makmuran material, sementara para-vidya mengantarkan seseorang mencapai kebahagiaan spiritual/ moksa. Para-vidya terdiri atas pengetahuan tentang Tuhan dan cara untuk mencapai kepada-Nya. Tentu saja, para-vidya lebih tinggi daripada apara-vidya. Bagian para-vidya dari kitab-kitab Veda ini teradapat di dalam inti dari Ajaran Veda, yakni kitab-kitab Upanisad, berupa wejangan guru yang menerima Wahyu.

Upanisad dikenal pula sebagai Vedanta atau kesimpulan dari kitab-kitab Veda. Ajaran Yoga Maha rsi Markandeya yang meru-pakan bagian dari Yajur Veda mengajarkan kepada kita untuk melakukan Tapa , Brata, Yoga dan semadi (untuk menyucikan hidup kita). Rsi Markandeya memberi wejangan, menyatakan bahwa Yoga ini adalah cara yang paling efisien dan praktis untuk mengatasi pengaruh buruk Kali-yuga. Yoga ini dapat dilakukan tanpa batasan dan ketentuan, baik seseorang berada dalam keadaan bersih, atau suci, ataupun tidak suci sama sekali.

“Buah matang dari pohon ajaran Yoga”, yakni Ajaran Yoga Rsi Markandeya menganjurkan pengucapan nama-nama Tuhan, dan dengan demikian mengumandangkan ajaran Yoga:

 

kaler dosa-nidhe rajann

asti hy eko mahan gunah

yoganad eva narayana

mukta-sangah param vrajet

Wahai Raja, walaupun kehidupan pada Kali-yuga ibarat lautan yang penuh dengan dosa, masih terkandung satu sifat baik di dalamnya yaitu: Cukup dengan melkasanakan Yoga seseorang dapat melepaskan dirinya dari jebakan ikatan material yang menyengsarakan dan naik ke tingkatan kehidupan spiritual. (Wahyu Rsi Markandeya 01)

 

krte yad dhyayato visnum

tretayam yajato makhaih

dvapare paricaryayam

kalau tad dhari-yoganat

Hasil apa pun yang dicapai pada Satya-yuga melalui meditasi kepada Visnu, pada Treta-yuga dengan cara melaksanakan korban-korban suci, dan pada Dvapara-yuga dengan cara melayani kaki-padma Tuhan, dapat dicapai pada Kali-yuga hanya dengan melakukan Yoga. (Wahyu Rsi Makandeya 02)

 

Wahyu Suci

Tersebutlah pada akhir zaman Dvapara, Maharesi Narada datang menghadap Dewa Brahma setelah bertualang ke seluruh dunia, lalu bertanya,

“Wahai guru hamba yang mulia, bagaimanakah caranya agar seseorang dapat melepaskan diri dari pengaruh buruk zaman Kali?”

Dewa Brahma menjawab:

“Pertanyaanmu sangatlah balk. Aku akan mengungkap kepadamu rahasia yang paling rahasia dari seluruh ^Sruti Sastra (Ag Veda, Yajur Veda, Sama Veda, Atharva Veda, dsb.), dengan mana seseorang akan dapat menyeberangi kesengsaraan kelahiran dan kematian yang terjadi berulang-ulang pada zaman Kali. Rahasia ini harus dijaga dan dilindungi.

Cukup dengan melaksanakan Tapa, Brata , Yoga , Semadi dan selalu berpikir tentang  Nama-Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Hyang Widhi, seseorang terbebas dari cengkeraman zaman Kali.”

Maharesi Narada kembali bertanya sebagai berikut: “Nama suci manakah yang Anda maksudkan?”

Selanjutnya Dewa Brahma menjawab: 10 sastra suci yaitu Sang , Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang secara khusus dimaksudkan untuk menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk zaman Kali. Untuk menyelamatkan diri seseorang dari pencemaran Kali-yuga, sama sekali tidak ada cara lain yang lebih efektif dari-pada mengucapkan Mantra suci ini. Setelah mencari ke seluruh literatur Veda, seseorang tidak akan menemukan metode keagamaan untuk zaman ini yang lebih mulia daripada pengucapan Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang dalam setiap tindakan Yoga.

Mantra ini menghancurkan 10 kala pada sang jiva, yang diawali dengan prana, yakni penutup berupa kebodohan. Dengan demikian Tuhan Yang Mahakuasa termanifestasi di hadapan sang jiva, sebagaimana halnya sinar matahari bersinar cemerlang setelah hilangnya awan-penutup.

Maharesi Narada kemudian bertanya: “Wahai guru hamba yang mulia, adakah aturan yang diperlukan dalam mengucapkan mantra suci ini?”

Dewa Brahma menjawab: “Sama sekali tidak ada aturan yang mempersulit seseorang dalam mengucapkan kesepuluh Nama Suci Personalitas Tuhan Yang Maha Esa ini.

Kapan dan di mana pun—setiap saat—apakah seseorang dalam keadaan suci atau tidak suci, ia dapat mengucapkannya. Dengan mengucapkan mantra ini maka seseorang akan mencapai keadaan terbebas dari kelahiran dan kematian, yakni moksa menyatu dengan brahmajyoti—cahaya Tuhan Yang Maha Esa.

Jika seseorang mengucapkan mantra yang berupa 10 Nama Suci Tuhan ini, sampai sejumlah tiga setengah koti (35.000.000), maka dosa-dosa yang diampuni akan setara dengan jika seseorang melakukan kegiatan yang me-nyebabkan terbunuhnya seorang brahmana, perwira, atau jika ia mencuri emas, termasuk dosa-dosa karena lalai atau menghina/ berbuat salah terhadap para leluhur, para dewa, bahkan kepada Tuhan, serta kesalahan terhadap sesama manusia atau yang lainnya. Dosa-dosa akibat meninggalkan segala macam dharma atau kewajiban-kewajiban suci yang telah digariskan juga akan segera terhapuskan.

Demikianlah Wahyu Suci ini. suci ini. Segala pujian kepada Sri Hari, Sang Kebenaran Mutlak. Atas segala karunia-Nya semoga sembilan penjuru mata-angin damai adanya.

Demikianlah berakhir Mantra suci penghancur pengaruh buruk zaman Kali.


Wahai resi yang berpengetahuan tinggi, pada zaman Kali yang keras ini, usia hidup manusia sangatlah pendek. Mereka suka bertengkar, malas, tersesat, bernasib sial, dan di atas semua itu, mereka selalu resah.

PENJELASAN:

Para penyembah Tuhan senantiasa berusaha untuk meningkatkan kecemasan spiritual orang banyak. Ketika para resi di Alam Yogi menganalisis kondisi orang-orang zaman Kali ini, mereka meramalkan bahwa usia harapan hidup manusia akan pendek. Penyebab utama usia pendek pada Kali-yuga bukanlah karena kekurangan pangan, melainkan karena mengikuti pola hidup yang tidak benar. Dengan membiasakan diri mematuhi pola hidup yang mengikuti aturan seperti makan tidak ber-lebihan, ataupun kurang dan sebagainya, maka kesehatan badan dan kecemasan spiritual terjaga dengan baik. Makan secara berlebihan, mengumbar nafsu badani, hidup di bawah tekanan karena bergantung pada belas kasih orang lain, serta mengikuti standar hidup yang bersifat artifisial (dibuat-buat) menyerap habis energi potensial manusia, yang menyebabkan usia harapan untuk hidup menjadi pendek.

Juga, orang-orang zaman ini cenderung bermalas-malasan, bukan hanya secara material, tetapi dalam soal keinsafan spiritual juga. Kehidupan manusia khususnya dimaksudkan untuk keinsafan spiritual. Ini berarti manusia harus menaapatkan pengetahuan menyangkut siapa diri-nya, apa dunia ini, dan apa itu kebenaran tertinggi. Bentuk kehidupan manusia merupakan sarana yang memungkinkan entitas hidup (para jiva) mengakhiri segala jenis kesengsaraan berupa perjuangan keras untuk bertahan hidup dalam keberadaan material dan yang memungkinkan untuk kembali kepada Tuhan, rumah abadinya. Tetapi, akibat sistem pendidikan yang kurang baik, orang tidak berkeinginan untuk menemukan jati diri spiritualnya. Kalaupun mereka sampai mengenal usaha pencarian keinsafan spiritual, malangnya mereka menjadi korban guru-guru sesat.

Pada zaman ini, orang-orang tidak hanya menjadi korban berbagai aliran dan partai politik, namun juga menjadi korban berbagai jenis kepuasan badani yang menyedot perhatian, misalnya sinema, game, perjudian, klab malam, perpustakaan sekuler, pergaulan buruk, rokok, minuman keras, penipuan, pencurian, pertengkaran, dsb. Pikiran mereka selalu resah dan penuh kecemasan akibat begitu banyak kesibukan. Pada zaman ini, banyak orang tidak ber-prinsip yang telah menciptakan keyakinan-keyakinan keagamaan sendiri yang tidak didasari oleh Kitab Suci yang diwahyukan mana pun. Sering terjadi bahwa orang-orang yang kekacauan kepuasan badani tertarik dengan lembaga-lembaga semacam itu. Sebagai akibatnya, dengan cara mengatasnamakan agama atau spiritual orang-orang malah berburu kepuasan inaera yang menghasilkan banyak per-buatan berdosa sehingga bukan kedamaian pikiran dan kebahagiaan spiritual yang dicapai melainkan penaderitaan. Komunitas-komunitas siswa (brahmacari) tidak lagi dipertahankan, dan orang yang berumah tangga tidak mengikuti aturan dan peraturan grastha-asrama. Sebagai akibatnya, orang yang namanya saja vanaprastha dan sannyasi yang berasal dari grastha-asrama yang demikian mudah sekali menyimpang dari jalan yang tegas. Pada zaman Kali, seluruh atmosfer dipenuhi oleh ketidakberimanan. Orang tidak lagi tertarik kepada nilai-nilai rohani. Kini kepuasan indera merupakan standar peradaban. Untuk memelihara peradaban-peradaban materialistik seperti itu, manusia telah membentuk bangsa-bangsa dan masyarakat yang rumit, dan antar berbagai kelompok tersebut selalu terjadi ketegangan baik perang kontak-senjata maupun perang dingin. Oleh karena itu, sudah menjadi sangat sulit untuk meningkatkan standar spiritual akibat terjadinya penyimpangan nilai-nilai masyarakat manusia saat ini. Para resi di jalan Yoga sangat prihatin dan ingin membebaskan semua roh (jiva) yang jatuh sehingga bebas dari keterikatannya, dan di sini mereka sedang mencari solusi dengan menyebarkan kesadaran Yoga

Ada berbagai jenis kitab suci, dan di dalamnya ditetapkan banyak tugas kewajiban, yang hanya bisa dimengerti setelah berbagai bagiannya dipelajari selama bertahun-tahun. Oh resi, karena itu, pilihlah hakikat semua kitab suci tersebut dan jelaskanlah demi kesejahteraan semua makhluk hidup, bahwa berkat ajaran tersebut, hati mereka dapat dipuaskan sepenuhnya.

PENJELASAN:

Atma, atau sang diri/ roh, dibedakan dari zat (materi) dan unsur-unsur material. Kedudukan dasar atma bersifat spiritual, dan karena itu, ia tidak bisa di­puaskan oleh perencanaan yang bersifat material sebanyak apa pun. Semua kitab suci dan ajaran spiritual dimaksudkan untuk kepuasan sang diri atau atma tersebut. Ada banyak jenis pendekatan yang dianjurkan untuk berbagai jenis manusia pada berbagai masa dan di berbagai tempat. Se-bagai konsekuensinya, ada banyak sekali kitab suci yang diwahyukan. Ada berbagai metode dan tugas kewajiban yang dianjurkan di dalam kitab-kitab suci tersebut. Setelah menimbang keadaan jatuh orang kebanyakan pada zaman Kali ini, resi-resi di Jalan Yoga menyarankan agar Maha Yogi Rsi Markandeya menyampaikan hakikat semua kitab suci tersebut, sebab pada zaman ini tidak mungkin roh-roh yang jatuh dapat memahami dan menjalankan semua ajaran berbagai kitab suci itu dalam sebuah sistem pergaulan  dan pasraman.

Masyarakat Pasraman  dianggap sebagai lembaga terbaik untuk mengangkat harkat manusia sampai pada tataran spiritual. Namun akibat Kali-yuga, orang-orang tidak mungkin bisa melaksanakan peraturan dan ketetapan lembaga-lembaga tersebut. Dan juga, orang pada umumnya tidak akan mungkin dapat memutuskan hubungan keluarga sepenuhnya sebagaimana yang ditetapkan oleh lembaga Pasraman. Seluruh suasana penuh rintangan. Menim­bang hal ini, kita dapat melihat bahwa moksa (keadaan terbebas dari belenggu material) sangatlah sulit untuk dicapai oleh orang awam pada zaman ini. Alasan mengapa para Rsi Markandeya  mengemukakan hal ini kepada Guru Made Sumantra

Oleh :

Guru Made Sumantra.

 

SELAMAT DATANG
Di Website
YOGA HEALING BALI
Balinese Yoga Healing
And Training

Jajak Pendapat

Program Yoga Apa Yang Paling Anda Minati?

View Results

Loading ... Loading ...

Pengunjung

  • Today Visit: 58
  • Yesterday Visit: 295
  • Month Visit: 5218
  • Total Visit: 125097
ubudyogahealingcentre
denpasarypgahealingcentre

Facebook Kami

Jobs, Cars and Top Windows VPS, Cloud Hosting by http://www.accuwebhosting.com/ - rock solid VPS Hosting.