Upanisad

Pencerahan Yoga Guru Made Sumantra.

Renungan Dalam Diri.

Setiap orang berusaha untuk mencari kebahagiaan. Akan tetapi banyak orang yang belum mengetahui caranya. Dengan mengandalkan konsep materialism, orang mencoba mencari kebahagiaan tertinggi dengan rencana beasr, namun semua berujung pada kekecewaan. Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak orang kurang paham langkah awal yang harus dilaluinya. Untuk mengetahui kebahagiaan tertinggi in, pertama – tama kita harus menyadari bahwa diri ini bukanlah badan ini, melainkan kesadaran. Kesadaran itu adalah identitas murni kita berupa Atman sebagi percikan kekuasaan Hyang Widhi Wasa. Namun Atman kita sekarang terkurung dalam sebuah badan yang kita pakai yang merupakan wadah material. Atman itu adalah nyata, kesadaran sebagi bukti keberadaanNya. Anak kecilpun tidak begitu sulit memahami bahwa kesadaran itu tanda adanya Atman. Ajaran Yoga akan menuntun kita mnuju ke  arah ini, ke keinsafan diri, agar kita tidak selalu terikat kesadaran di alam material, sehingga bisa menggapai kebahagaian tertinggi yaitu kebahagian Atman. Kesadaran atman tetap ada walapunpun badan ini telah hancur. Akan tetapi dia akan berpindah ke badan yang baru, sesuai karma wesananya. Orang yang sudah mencapai kesadaran Atman, lepas dari konsep material jelas pembebasan tertinggi sebagai kebahagian atman akan dia perolah . Namun kalau kesadarannya masih terikat material, setelah dia mati dia akan lahir kembali dengan badan baru yang berbeda. Ini terjadi berulang-ulang sesuai konsep hukum alam. Sekarang kita memiliki badan yang serba terbatas, dia sama seperti baju yang menutupi badan. Di Balik baju ada badan, didalam badan ada atman. Atman di balut dan dikurung oleh material berupa badan , dimana badan ini akan hancur dan tidak kekal. Karena tidak kekal sehingga kesadaran yang terikat material badan in, disebut kesadaran palsu atau Maya. Bukan kesadaran sujati.  Kesadaran badan akan berbicara, saya manusia, itu anjing, itu babi, itu burung. Karena dia lihat dari Badan. Tapi kesadaran Atman akan bicara , manusia , anjing, babi dan burung adalah sama berupa atman yang terikat badan. Jadi kalau badan in hancur atman tetap tunggal sama dengan kita . Tidak ada beda antara atman manusia dan hewan, secara sujati , yang beda hanya badan yang ditempati.  Kesadaran Yoga Rsi Markandeya, yang disebarkan oleh Guru Made Sumantra, yang mendapatkan pencerahan Beliau secara niskala senantiasa akan mengajak kita terhubung dengan Hyang Widhi Wasa sebagai sumber Atman yang tertinggi. Hyang Wdihi dapat selalu terhubung dengan kita , karena Hyang Widhi Maha segalanya. Oleh karenanya Hyang wdhi selalu menghubungi kita dengan segala wahyu ajaranNya. Tidak ada perbedaan antara Hyang Widhi dengan Wahyu AjaranNya. Itulah Maha KuasaNya. Maha Kuasa bearti segala sesuatu yang berasal dari Hyang Widhi memilikim kemampuan yang sama dengan Hyang Widhi sendiri. Di Dunia material , kalau kita lapar, kita akan perlu makanan, kalu kita hanya mengucapkan makan, tidak akan menghapus rasa lapar kita, kecuali kita langsung mekan sesuatu. Namun di alam spiritual tidak begitu, kesadaran akan melampaui dunia material. Rasa lapar akan kebahagiaan kita , akan bisa terhapus hanya dengan menyebut Nama Hyang Widhi. Tidak perlu harus melihat Hyang Widi sendiri arau memakanNya.  Nama Hyang Widhi, Ajaran Hyang Widhi, Akan memberikan kepuasan yang sama dalam hidup kita. Pribadi –pribadi yang dating dari dunia Rohani, akan menyadari bahwa Hyang Widhi berada di hati kita , dihati anda dan di hati saya juga. Hyang Widhi bersemayam di hati setiap mahluk. Hyang Widhi tidak pernah menjauhi kita, Ia selalu hadir dalam diri kita. Hyang Widhi maha pengasih, selalu menemani kita saat kita mengalami kelahiran demi kelahiran. Beliau sedang menunggu kapan kita kembali kepadaNYa. Hyang Widhi begitu murah hati, walau kita melupakanNya, Ia tidak pernah melupakan kita. Walaupaun setiap mahluk memakai Badan, ibarat baju yang berbeda. Hyang Widhi tetap dengan kasihnya bersemayam dalam diri kita, mengasihi kita. Kecerdasan sepiritualseseorang dapat digunakan untuk selalu meraih kebahagiaan yang tertinggi itu, yaitu kebahagiaan yang tidak terikat badan material, tapi kebahagiaan yang terikat kesadaran Hyang Widhi.  Karena kesadaran Hyang Wdihi melampaui kesadaran material yang palsu itu. Selalu mengucapkan Puja Hyang Wdhi dalam diri, semua kebingungah hidup akan segera terhapuskan, pencerahan Jiwa akan segera bangkit, kegelapan bhatin akan mulai sirna. Yang ada Hanya kasih Hyang Widhi yang slelau memberkati kita. Hyang Widhi adalah Sumber dan asal dari kebahagiaan tertinggi, jadi raihlah dengan selalu memujanya dan menyebut namaNYa.

Kontrol Badan Dan Pikiran Dengan Jalan Yoga.

      Pada hari hari belakangan ini, banyak orang telah dan sedang melakukan berbagai pelatihan untuk mengotrol badan dan pikiran sebagai jalan untuk mencari ketenangan hidup. Yang popular adalah Yoga dan Meditasi.

       Namun kenyataan banyak orang hanya melakukan dan tidak sukses mengendalikan pikirannya, karena pengaruh dunia material sangat kuat menerjang kehidupan manusia jaman ini. Sehingga dimanapun group group spiritual, selalau gagal , menghilangkan gelombang gelombang negative pikiran pengikutnya. Masih terlihat sangat jelas, perang material dalam group ini, sehingga rasa persaingan akan dak bisa dihindari. Timbul rasa iri, cemburu dan kesel pada saudara sesama latihan , sesuatu yang dak dapat dielakan lagi. Akhirnya… kelompok Spiritual menjadi ajang persaingan ini. Hmmmmmm ( Saya mengutip desahan nafas salah satu murid saya ).

      Guru Made Sumantra , mengingatkan wahai saudaraku, memang sangat sulit mengendalikan pikiran yang bergejolak, akan tetapi itu dapat dilakukan selalu berlatih dan melepaskan diri dari ikatan material. Cara melatih diri dan meninggalkan hal- hal material sebagai cara terbaik untuk mengendalikan pikiran.

   Jadi apa arti meninggalkan hal hal material itu? . Dewasa ini sangat sulit meninggalkan hal-hal material , sebab kita sangat terbiasa dengan berbagai macam kenikmatan indra yang bersifat materialistic. Kita mengarungi kehidupan materialistic tanpa kendali, namun kita juga mencoba mengikuti kelas-kelas yoga dan ingin mencapai sukses. Untuk melakukan yoga secara benar , sangat banyak aturan dan pantangan yang harus diikuti dan kebanyakan dari kita sulit meninggalkan kebiasaan buruk kehidupan. Yoga tidak dapat dilakukan secara benar bagi orang yang makan berlebihan atau oleh orang yang kelaparan. Sebaiknya orang makan yang cukup untuk menjaga kesehatan, bukan untuk memuaskan selera lidah saja. Biasanya dijaman ini disuguhi makanan yang enak, bisa makan dua  sampai lima macam, lidah kita tak pernah merasa puas. Orang juga tak akan bisa melaksanakan yoga kalau banyak tidur atau kurang tidur. Apa lagi kalau tidur selalu banyak mimpi , melaksanakan yoga dak akan berhasil. Kita jangan tidur lebih dari enam jam sehari, tujuannya untuk selalu menjaga kesehatan badan kita.

    Kita sebaiknya selalu berusaha memusatkan pikiran  pada Roh yang utama, Hyang Widhi Wasa, Tuhan yang maha segalanya. Sebaiknya selalu menyunyikan diri untuk mengendalikan pikirannya. Dan selalu berusaha melepaskan diri dari perasaan dan pikiran untuk menguasai sesuatu Pengalaman Guru Made Sumantra , yoga menuntun kita kearah in. Dalam yoga sebagai meditasi, sangat mustahil kita dapat memusatkan pikiran Pada Roh yang utama, kecuali kita lakaukan ditempat yang mendukung untuk itu, seperti group yoga, karena semua orang parktek bersama sehingga pengaruhnya kuat untuk membangkitkan semangat kita untuk selalu pratek yoga.. Selain itu  kita harus menghilangkan cita-cita memperoleh kesaktian untuk dipamerkan. Disamping itu kita harus menerima pemberian dalam bentuk apapun selanjutnya di serahkan lagi secara bijaksana kepada alam ini. Jika ingin melakukan Dhyana yoga secara benar sebaiknya tinggal di tempat orang beryoga atau Pasraman,.menjauh dari keramaian sama sekali. Kita harus mantap untuk siap kita menjadi Yogi. Kita tidak menganggap diri kita sendiri sebab setiap saat ada Hyang Widhi. Dalam hal ini kita mengerti bahwa dalam masyarakat modern memang sulit sekali melakukan system Dhyana Yoga( yoga meditasi). Secara tepat. Sebenarnya peradaban modrn seperti Kali Yuga ini, menciptakan situasi yang tak kondusif bagi kita untuk mengasingkan diri.tanpa keinginan dan tanpa harta.

 Kemudian kita harus duduk dengan mantap memusatka pikiran pada satu titik saja Setelah mendapat tempat yang bagus dan nyaman seorang Yogi mulai menyucikan Atman yaitu Badan, Pikiran dan Roh/jiwa. Seorang yogi dak pernah berpikiran untuk mendapatkan kesaktian atau siddhi, itu bukan tujuan yoga, dan seorang Yogi sejati tak memamerkan kesaktiannya. Seorang yogi sujati akan berpikir sekarang aku dicemari oleh suasana duniawi, karena itu harus menyucikan diri.

   Sekarang kita mengetahui mengendalikan badan dan pikiran bukan hal yang sangat mudah, tetapi Guru Made Sumantra menjelaskan semua itu akan menjadi mudah kalau kita berada dalam kesadaran Hyang Widhi selalu( Roh Yang utama) . Tentu setiap orang telah termotivasi oleh kehidupan seks, tapi sebenarnya seks tidak dilarang, kita masih punya badan selagi ada badan, hasrat seks masig ada disana. Begitu juga kita harus makan, harus tidur dan sebagainya untuk memelihara badan ini. Jika kita ingin menjadi sukses dalam Yoga,  kita tidak boleh membiarkan indera-indera kita menjadi liar, sehingga menguasai diri kita dan menyeret kita untuk di bawa ke objek –objek nya, itu knapa Guru Made Sumantra menyarankan , hal ini hanya dapat dihindari kalau kita selalu mendapat tuntuanan seorang Guru yang tercerahkan. Bila tidak pikiran menjadi semakin  tidak tenang. Maksud disini bukan kita menghentikan kegiatan sama sekali, ini hanya untuk melatih mengurangi keterikatan material dan diarahkan ke melekatan pada Hyang Widhi. Selalu berada pada kegiatan yang berhubungan pada Hyang Widhi, inilah semadhi sejati itu.  Tidak benar bahwa orang yang berada dalam kegiatan Yoga, dia tidak makan, tidak bekerja, tidak tidur, atau berhubungan seks. Yoga diartikan sebagai melakukan segala kegiatan kehidupan sambil tekun berpikir tentang Hyang Widhi Wasa.

   Keinsyafan diri adalah  adalah pekerjaan yang sangat sulit bagi orang yang pikirannya belum dikendalikan., untuk dapat dengan mudah dan nyaman dalam melatih yoga maka satu –satunya cara, melakukan yoga sebagai persembahan kepada Hyang Widhi dan selalu dalam kesadaran Hyang Widhi.

   Apa cirri-ciri orang yang telah telah suskes dalam latihan Yoga?,  jawabannya jika kesadarannnya telah sepenuhnya berada dalam pengendaliannya.. Ketika seorang Yogi dengan mempraktekan Yoga, mendesiplinkan kegiatan pikirannya dan menjadi mantap dalam hal-hal yang melampaui Duniawi, tanpa keinginan yang bersifat material  ia dikatakan sudah mencapai YOGA. Orang yang telah mencapai Yoga bebas dari perintah-perintah pikiran, malah dia yang mengendalikan pikiran.Tidak benar pikiran dibuang atau dihapuskan.sebab selalu berpikir tentang Hyang Widhi ,Tuhan penguasa Jagat. Sebab selalu berpikir tentang THyang Widhi adalah kewajiban seorang Yogi. Seorang Yogi jangan membiarkan pikiran menerawang, ini mungkin kedengarannya sulit, tapi itu bisa dalam kesadaran Hyang Widhi. Jika seseorang selalu tekun dalam kesadaran Hyang Widhi dan berbhakti pada Hyang Widhi, mungkinkah pikirannya sempat membara jauh dari Hyang Widhi?  Dalam melayani Hyang widhi, pikiran akan terkendali dengan sendirinya. Seorang Yogi seharusnya tidak memiliki keinginan kepuasan terhadap hal-hal material,  Apa bila dia berada dalam kesadaran Hyang Widhi, tak ada keinginan lain selain Hyang Widhi. Tanpa keinginan juga tidak mungkin, , keingginan untuk pemuasan indera-indera harus diatasi dengan penyucian, dan keingingan untuk mendekatkan diri kehadapan Hyang widhi harus di tingkatkan. Jadi kita hanya perlu mengubah keingingan. Tidak mungkin mematikan keinginan, sebab keinginan tetap konstan bersama entitas hidup. Kesadaran Hyang Widhi adalah cara menyucikan keinginan. Selalu harus berbhakti pada Hyang Widhi, dari contoh, kalau kita lagi menyiapakan makanan untuk diri sendiri, arahkan pikiran menyiapkan makanan akan dipersembahkan pada Hyang Widhi. Aksi kegiatananya tidak beda , tapi yang beda perubahan pada kesadaran, dari berpikir dan bertindak untuk diri sendiri, menjadi berpikir dan bertindak untuk Hyang Widhi. Kita bisa menyiapkan makanan yang enak, tapi dalam tataran kesadaran kita persembahakan kepada Hyang Widhi sebagai ucapan terimakasih. , dalam hal ini karma kita disucikan, sebab dari persiapan sampai matang masakan yang dipikirkan hanya Hyang Widhi. Kita tak hanya berpikir makanan ini untuk diri sendiri, dalah hal ini keseimbangn Yoga telah tercapai. Karena setiap tindakan kita selalau menyelaraskan diri dengan Kesadaran Hyang Widhi.

   Seorang Yogi harus melatih pikirannya selalau berada pada  alurnya dan mencegah menjauh dari Tuhan. Harus disadari kebahagiaan sejati berasal dari indera-indera transedental( melampaui keduniawian) , bukan dari inera-indera bersifat material. Indera-indera dam keinginan dak harus dikorbankan, tapi diarahkan dalam koridor spiritual. Dengan demikian sesungguhnya seorang yogi hidup dalam kenikmatan, namun bagaimana kenikmatan mereka?  Kenikmatan tanpa batas, kenikmatan tanpa batas itulah kenikmatan sejati kenikmatan tersebut spiritual bukan material. Kehidupan spiritual sangat membahagiakan, dan Hyang Widhilah sumber kebahagiaan itu. Kita tidak perlu mengorbankan kebahagiaan, tapi bahagia dengan kesadaran Hyang Widhi. Sebenarnya selama kita berada pada konsepsi kehidupan material, kita tidak dapat menyenangkan diri, malah semakin terjerat oleh material. Dan semakain sulit untuk lepas dari ikatan. Semua system yoga dimaksud untk melepaskan Sang Roh yang terikat dari kurungannya dan memindahkan dari kenikmatan palsu, dari material diarahkan pada kenikmatan asli kesadaran Hyang Widhi. Pada tingkat sempurna, pikiran seseorang terkendali sepenuhnya dari kegiatan pikiran material  melalui latihan Yoga.  Tanda-tanda keadaan ini berupa kemampuan seseorang melihat sang diri dengan pikiran suci dan bahagia dan menikmati dalam dirinya.Dalam hal ini, seseorang berada dalam kebahagiaan spiritual yang tanpa batas. Ia berpuas hati melalui indera- indera spiritual. Dengan keadaan seperti ini orang tak akan tergoyahkan, walau bearada ditingkat kesulitan yang paling besar.inilah pembebasan yang sebenarnya dari duka cita kehidupan material. Ada berbagai jenis desiplin Yoga, satu mudah untuk orang lain, yang lain sulit untuk seseorang, Namun jalan apapun yang dipilih, seseorang harus menyucikan kehidupannya menuju konsepsi kesadaran Hyang Widhi.Kemudian ia akan bahagia. Seorang dikatakan telah mencapai Yoga, ketika dia tidak lagi bertindak memuaskan indrera-ideranya dan juga tidak melakukan kegiatan yang berpenghala. Pkiran selalau terkendali, pikiran adalah teman bagi Roh yang terikat, dan juga sebagai musuhnya. Kita sendiri harus meningkatkan diri untuk mencapai tataran spiritual, Dalam pengertian ini, Aku adalah temanku dan Aku adalah musuhku..

   Sesungguhnya tak ada yang menjadi teman atau musuh seseorang, hanya berdasarkan tingkah laku, orang dapat mengerti siapa teman , siapa musuh. Tak seorangpun dilahirkan menjadi musuh atau sebagai teman kita. Peran ini dimainkan oleh tingkah laku satu sama lain. Bagi orang yang telah mampu menaklukan pikiran, pikirannya adalah teman yang paling baik, tapi bagi yang tak mampu, pikirannya adalah musuh yang paling jahat.

    Jika mengikuti cara Yoga, pikiran dapat dilatih, maka pikiran menjadi teman sang roh, kalau pikiran kita berpikir tentang badan, roh akan terikat badan, kalau pikiran kita bepikir tentang alam , roh akan terikat alam, nah kalau pikiran kita berpikir Hyang Widhi, roh akan terikat Hyang Widhi, jadi pengendalian pikiran adalah kuncinya. Ini hanya akan diperoleh dengan latihan Yoga.

    Bagi yang telah menaklukan pikirannya,  Roh yang utama, Tuhan telah digapainya, sebab dia telah mencapai kedamaian, bagi yang demikian, suka dan duka, panas dan dingin penghormatan dan hinaan adalah hal yang sama saja.  Dengan pikiran yang terlatih , seseorang akan benar-benar mendapatkan kedamaian. Pendidikan duniawi, kekayaan, dan kekuasaan tidak dapat membantu seseorang dalam mengendalikan pikiran.  Hyang Widhi ,Tuhan  atau Roh yang utama selalau bersemayam didalam hati bersama Roh individu, system Yoga adalah latihan selalu memusatkan pikiran dan dirahkan untuk menuju Sang Roh dalam Hati. Dengan tekun berlatih kita akan bebas dari segala atribut palsu material.

Untuk mencapai kesadaran ini, Pesraman Markandeya Yoga mengajarkan Praktek pengendalian gerak badan atau tubuh yang desebut Asana, Praktek pengendalian Nafas , untk mengontrol energy dan gelombang energy dan praktek Dhyana yang itu mengontrol gelombang gelombang pikiran dan diarahkan kedalam kesadaran diri Sang Roh yang Agung. Hanya denga latihan yang tekun dan desiplin yang ketat, semua tujuan itu akan tercapai. Praktek Asana yujuan akhirnya bukan dapat melakukan gerakan secara baik, tapi kemampuan mengontrol gerak badan sehingga kita dalam posisi Asana Jaya, yaitu kemampuan mampu menang dari segala kebutuhan Badan.

Latihan Pranayama atau control nafas tujuannya buka kemampuan menghimpun nafas vital sebayak banyaknya , tapi berhasil mengontol nafas vital di arahkan kekesadaran diri Sang roh., pemusatan kekuatan vital untuk evolusi roh. Dhyana bukan tujuannya bisa duduk meditasi ber jam jam, tapi bertujuan kita mampu mengontroh kemauan pikiran material kita arahkan ke kemauan pikiran ke spiritual menuju Sang Atma menjadi kesadaran ketuhanan, Hyang Widhi. Ini Sangat perlu kita sadari dan pahami untuk dilatih.

Hyang Widhi Wasa sebagai objek meditasi dalam Yoga.

 Di Bali terdapat tempat-tempat suci dimana para penekun spiritual pergi kesana untk bermeditasi dalam kesunyian. Secara Tradisi Yoga tidak dilakukan di tempat ramai, tetapi sepanjang dia berupa Kirtana ( Kidung dan Nyanyian Tuhan) – Mantra Yoga atau Yoga mengucapkan Mantra-Mantra dan Ajapa-japa- smakin banyak orang semakin bagus.  Berpartisifasi dalam Kirtanan tersebut , memuji nama Hyang Widhi secara beramai ramai sangat mungkin dan sungguh mudah dilakukan pada jaman ini.  Namun sejauh menyangkut cara-cara yoga meditasi ( Dhyana Yoga) sulit dilakukan. Hal ini memang sudah diterangkan secara khusus oleh para Maha Yogi, bahwa untuk melakukan yoga yang bersifat  meditasional orang harus pergi khusus ke tempat yang suci dan terpencil.Dengan lain orang harus mengucilkan diri jauh dari rumahnya. Pada Jaman ini dimana penduduk sangat padat, sangat sulit menemukan tempat seperti itu.  Namun dalam Bhakti Yoga, tepat seperti itu tak diperlukan .

  Dalam system Bhakti Yoga ada sembilan cara yang berbeda: Mendengarkan nama Tuhan( Sravanam), mengucapkan nama-nama Tuhan( Kirtanam visnoh), Memuja Arca di kuil ( Arcanam), Berdoa( Vandanam), menjalankan perintah-perintah Tuhan ( Dasyam) melayani Tuhan sebagai sahabat( Sakhyam) dan korban suci ( Atma-nivedanam).

    Semua system Yoga dimaksudkan untuk penyucian diri. Dan Penyucian macam apa?  Penyucian terjadi ketika seseorang menginsafi identitasnya yang asli. Penyucian bearti menginsafi bahwa Saya murni sebagai Roh, saya bukan benda material ini. Oleh karena hubungan material, kita menyamkan diri dengan alam dan kita sedang berpikir Saya adalah Badan ini. Namun dalam melakukan Yoga yang sebenarnya harus menginsafi kedudukan dasarnya sebagai sesuatu yang lain dari Alam.  Tujuan dari keluar ke tempat-tempat terpencil adalah untuk mencari pengertian ini. Tujuan tersebut tidak mungkin dicapai, kalau seseorang melakukan dengan cara yang tidak benar.

    Pada Jaman ini adalah jaman kekacauan( kali Yuga) tidak ada cara lain untuk keinsafan sepiritual kecuali selalu ingat dan meditasi Pada Hyang Widhi. Tiada Cara lain( Brhman –naradiya Purana).

    Pada umumnya , paling tidak di Negara-negara barat, system Yoga dimaksudkan untuk meditasi pada kekososngan, Akan tetapi Guru Made Sumantra tak menganjurkan orang meditasi pada kekosongan.  Tapi menganjurkan meditasi Kepada Hyang Widhi.

    Dalam banyak perkumpulan Yoga, kita melihat orang dengan gampang, memejamkan mata, kaki bersila dengan badan tegak lurus untuk bermeditasi, tapi lima puluh persen mereka tertidur. Sebab apabila memejamkan mata dan tak sesuatupun dalam pikirannya, maka benar-benar mereka akan tertidur. Orang harus duduk tegak, mata setengah terpejam dan memandang ujung hidung, lagi pula harus tak merasa terganggu atau goyah. Jika pikiran resah orang tak akan bisa mantap konsentrasi. Dalam meditasi orang harus menjauhkan diri dari kecemasan. Tidak ada kecemasan lagi ketika seseorang mulai kehidupan spiritual. Dan juga membebaskan diri dari tujuan lain selain Hyang Widhi. Mengarahkan pikiran hanya pada Hyang Widhi, bukan pada kekosongan atau yang lainnya. Seseorang yang dikatakan benar dalam Yoga selalu akan berpikir tentang Hyang Widhi sebagai sumbernya.

  Tak salah lagi seorang Yogi harus menjalani banyak kesulitan untuk menyucikan Atma(pikiran, badan dan Roh), tapi sebuah kenyataan hal itu dapat efektif dilakukan pada jaman ini, dengan jalan bhakti dan selalu menyebut nama Hyang Widhi. Seseorang yang khusuk menyebut nama Hyang Widhi, akan merasakan Tuhan ada dalam dirinya, dan Tuhan bersamanya, jika sudah pada kesadaran demikian mana mungkin orang tidak suci. Dengan melayani Hyang Widhi sepanjang waktu, sejatinya seseorang sudah mendapatkan manfaat dari Yoga yang Maha tinggi.

  Dalam Yoga sangat penting mengendalikan indera-indera, ketika indera-indera sudah terkendali, pikiran harus sibuk berpikir tentang Hyang Widhi. Orang akan menjadi tenang dalam kehidupan material ini. Bagi orang yang telah mampu menaklukan pikiran  Roh yang utama ( parama Atma) telah dicapainya, sebab dia sudah mencapai puncak kedamaian. Didunia material ini , kita sulit mencapai kedamaian, tak ada tempat damai di dunia material ini, semakin di ikat kita akan semakin masalah, tetapi orang yang tekun beryoga, kedamaian itu pasti didapatkan, karena kesadarannya pindah kekesadaran ketuhanan, yaitu Hyang Widhi.

   Tempat tinggal Hyang Widhi bukanlah kekosongan, kerajaan Hyang Widhi seperti kehidupan, selalu banyak kegiatan tanpa henti, jadi untuk sampai kekerajaan Hyang Widhi, kita juga harus melakukan kegiatan Rohani, bukan menjadi kosong.  Cara Yoga hanya untuk menaikan diri kita sendiri hingga dapat masuk ketempat tinggal tersebut. Pada hakekatnya kita berasal dari tempat itu , namun karena lupa,kita ditempatkan di dunia material ini.

  YOGA  akan melatih kita berbuat  dalam Bhakti.

        Kita telah  mendengar banyak nama dan berbagai jenis Yoga dan bemacam-macam Yogi, tetapi dalam kenyataannya yang disebut Yogi Sejati adalah orang yang telah berserah diri dengan Sepenuh Hati pada Hyang Widhi sebagai asalnya.  Tak ada perbedaan antara berserah diri Sannyasa dengan Yoga.  Apa yang disebut meninggalkan hal-hal duniawi tidaklah berbeda dengan Yoga atau hubungan diri dengan Hyang Maha Kuasa, karena tak seorangpun bisa menjadi seorang Yogi kecuali ia meninggalkan keinginannya untuk memuaskan indera-indera.

      Dalam Spiritual Bali ada empat jenis dasar Yoga, karma Yoga, Jnana Yoga dan Bhakti Yoga dan Raja Yoga. System-system yoga itu ibarat sbuah jenjang. Seorang mungkin berada ditingkat pertama, yang lain mungkin pertengahan, atau seseorang mungkin berada di Puncak. Ketika seorang berada ditingkat tertentu mereka disebut, Karma yogi, Jnana Yogi, bahkti yogi dan sebagainya. Bagaimanapun pelayanan terhadap Hyang Widhi , Tuhan Yang Maha Kuasa adalah sama hanya berbeda tingkatan saja. Sebab tanpa kebebasan dari keinginan material dan kesenangan badani, seseorang tak dapat menjadi seorang Yogi dan Sanyasin.

     Ada Yogi-yogi yang melakukan Yoga demi mendapatkan laba, tapi itu bukan Yoga yang sejati. Segala sesuatu harus digunakan sebagai pelayanan kepada Hyang Widhi Wasa. Apapun yang kita lakukan, baik sebagai pekerja biasa, sannyasin, sebagai Yogi atau filsuf, Pendeta, Guru, Petani, dan sebagainya, seharusnya semua dilakukan dalam kesadaran Hyang Widhi. Jika kita tekun melakukan pelayanan bhakti kepada Hyang Widhi dan berbuat apapun dalam kesadaran demikian maka kita dapat disebut sanyasin atau Yogi sejati.

   Bagi mereka yang sedang melangkah naik dari tingkat pertama dalam system Yoga ada pekerjaan disana. Seseorang jangan pernah berpikir hanya karena mulai melakukan Yoga maka dia harus menghentikan kegiatannya. Dalam suatu kelas Guru Made Sumantra mengarahkan orang menjadi seorang Yogi, tapi tidak menyuruh orang untuk menghentikan tanggungjawab hidupnya.  Dalam pengertian awam melakukan Yoga adalah menutup mata, kaki bersila dan pejamkan matannya, tapi Yoga sebenarnya bukan begitu, melakukan segala kegiatan dalam hidup sebagai pelayanan bhakti pada Hyang Widhi, inilah Yoga. Dalam spiritual Yoga, orang harus bekerja untuk Hyang Widhi, makan untuk Hyang Widhi dan hidup untuk Hyang Widhi dan menyerahkan semua aktifitasnya untuk Hyang Widhi, inilah Yoga. Dengan demikian dia akan menjadi yogi yang sempurna.  Yogi yang paling Agung adalah Yogi yang selalu berpikir tenyang-Nya. Berpikir tentang Hyang Widhi adalah nti dari semua jalan Yoga, dari hatha, Tantra, karma, bhakti, mantra, yantra dan janna yoga. Atau dari segala yoga korban suci. Segala kegiatan yang diusulkan untuk keinsafan Rohani, tujuan akhinya adalah kesadaran Hyang Widhi. Yaitu selalu berpikir tentang Hyang Widhi, Kesempurnaan hidup manuasia yang sejati dicapai dengan selalu sadar Hyang Widhi dan ingat Hyang Widhi sambil aktif melakukan kegiatan.

    Pada tahap awal dianjurkan seseorang bekerja untuk Hyang Widhi, seseorang harus selalu memcari kesibukan dan meminta tugas, dalam pelayanan Hyang Widhi, kalau sudah menjadi kebiasaan, dia tak akan bekerja untuk Hyang Widhi dalam pisik saja tapi sudah keranah hati dan pikiran. Selalu ingat  Hyang Widhi dan selalu menyebut nama Hyang Widhi dalam hatinya. Dalam dunia material mungkin orang akan sangat lelah bekerja sepanjang hari, tapi dalam dunia spiritual orang akan selalu nampak segar dengan menyebut nama Hyang Widhi dalam hatinya. Tidak ada kata lelah dalam tataran spiritual, karena energy akan tak pernah berkurang. Di dunia material semua bekerja untuk memuaskan indera-indera, namun seorang Yogi yang sejati tidak menginginkan hasil seperti itu, dia tak menginginkan sesuatu selain Hyang Widhi, dan Hyang Widhi ada disini,

  Yoga Sebagai Cara Untuk Membangkitkan Kembali Hubungan dengan Hyang Widhi. 

   Kita sudah sering mendengar system Yoga.  Namun system yoga yang di laksanakan oleh Guru Made, khusus dimaksudkan untuk penyucian. Tujuannya ada tiga jenis: untuk mengendalikan indera-indera, untuk menyucikan kegiatan dan untuk menghubungkan diri seseorang kepda Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam hubungan timbale-balik.

   Kebenaran mutlak diinsafi dalam tiga tingkatan yakni: Cahaya kekosongan Brahman, Paramatman(Roh yang utama) yang terlokalisir/berada ditempat-tempat tertentu dan terakhir Bhagawan yaitu personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Pada analisys puncak , kebenaran mutlak tertinggi adalah sosok personal/satu sosok pibadi. Pada saat yang sama Dia adalah Roh Yang Utama yang Maha Ada, ada dihati tiap entitas hidup dan disetiap inti Atom dan Dia adalah Brahmajyoti atau pancaran Cahaya Spiritual.

   Di dunia material kita melihat bahwa orang kaya tak memiliki keberanian untuk meninggalkan harta bendanya, Tapi seorang Yogi tidak demikian bisa meningalkan segalanya dan tetap sempurna dalam Diri Nya.

  Bila kita belajar Yoga dibawah bimbingan Guru Spiritual, hendaknya kita tidak berpikir bahwa guru spiritual mengajarkan pendapat pribadinya. Bukanlah beliau yang berbicara. Beliu hanyalah sebuah alat. Pembicara yang sesungguhnya dan sebenarnya adalah Tuhan Yang Maha Esa  Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam maupun di luar.

   Orang yang tak terikat pada hasil kerjanyan dan yang bekerja berdasarkan kewajiban adalah orang yang berada pada tahap hidup pelepasan keduniawian, dan dialah Rohaniawan Sejati, bukan orang yang tak menyalakan api sama sekali dan tidak melakukan pekerjaan sama sekali.

    Setiap orang bekerja dan mengharapkan suatu hasil. Mungkin orang bertanya Apa tujuannya bekerja jika tidak mengharapkan hasil? Suatu upah atau Gaji selalu diharapkan oleh pekerja. Tapi kesadaran yang melampau kerja, adalah pekerjaan yang tidak terikat oleh hasil nya. Dia bekerja hanya sebagai kewajiban hidup. Orang yang bekerja sperti ini, inilah seorang Sannyasi, yang bearada pada tarap kehidupan yang meninggalkan keduniawian.  Dalam kultur Weda ada empat tingkatan dalam kehidupan yaitu Brahmacari, Grhasta, Vanaprastha dan biksuka/Sannyasin. Brahmacari adalah kehidupan sebagai murid untuk dilatih dalam pengetahuan spiritual, Grhasta adalah orang hidup berumah tangga, kemudian sekita berusia lima puluh Tahun seorang bisa masuk pada tingkat vanaprasta, meninggalkan rumah dan anak –anak untuk berjiarah ketempat suci dan menyunyikan diri, Terakhir istri dan anak-anak ditinggalkan untuk hidup sendirian dalam memantapkan kesadaran akan Hyang Widhi Wasa,  dalam tingkat ini disebut biksuka.Sannyasin, tahap melepaskan seluruh kehidupan material. Namun ada kewajiban pula yang harus dilaksanakan pada tingkat ini, yaitu bekerja dan menjalankan kewajiban kepada Hyang Widhi Wasa..

     Ada dua jenis kewajiban dalam kehidupan semua orang: Yang pertama melayani ilusi (khayalan) dan yang lain melayani realitas(kesejatian) . Ketika seseorang melayani Realitas, maka ia benar-benar adalah seorang Sannyasin. Dan ketika dia melayani ilusi, sesungguhnya dia telah disesatkan oleh Maya. Akan tetapi kita harus mengerti bahwa dalam setiap keadaan kita harus melakukan pelayanan, baik melayani Realitas atau ilusi. Posisi paling mendasar entitas hidup  adalah melayani , bukan sebagai Tuan.  Seseorang mungkin mengganggap dirinya sebagai Tuan, namun sejatinya dia adalah Pelayan. Seorang Kepala keluarga mungkin menganggap dirinya Tuan , bagi istrinya, anak, keluarga, rumah , perusahan, tetapi semua anggapan itu Palsu. Sebenarnya orang itu adalah melayani istrinya, anaknya , perusahannya. Presiden dianggap pemimpin Negara, tetapi sebenarnya dia adalah Pelayan Negara. Kedudukan kita selalu sebagai Pelayan baik Pelayan Tuhan ataupun ilusi. Maka hidup kita akan sia-sia. Memang sebagaian orang menggap dirinya bukan pelayan, bahwa ia semata-mata bekerja untuk dirinya sendiri. Walaupun hasilnya bersifat sementara dan berupa ilusi, pahala-pahala tersebut memaksa dia menjadi budak ilusi atau budak indera-indera. Tetapi ketika seseorang tersadarkan kembali ole indera-indera spiritualnya dan benar-benar memiliki pengetahuan spiritual, saat itu dia menjadi pelayan Realitas.  Ketika setiap orang sampai pada tingkat ini , akan mengerti bahwa setiap keadaan dia adalah Pelayan. Oleh karena tidak mungkin ia menjadi Tuan. Maka kedudukan akan jauh lebih baik sebagai pelayan realitas, disbanding pelayan ilusi(maya). Ketika seseorang menyadari hal itu ia mencapai tingkat pengetahuan sejati. Sannyasa adalah soal keinsafan, bukan soal setatus social. Atau pangkat sesial.

   Sebagai kewajiban setiap orang untuk menjadi Sadar Hyang Widhi dan melayani maksud Hyang Widhi Wasa. Ketika seseorang benar-benar menyadari hal itu ia menjadi seorang Mahatma. Atau insane mulia.

    Orang pada tahap ini hanya akan berserah diri Pada Hyang Widhi, dan bukan pada siapa-siapa. Orang cerdas akan mengerti adalah Tujuan akhir akan berserah diri pada Hyang Widhi dan tidak ada keraguan lagi akan hal ini. Ketikan saat orang menyerahkan diri dia akan menjadi Sannyasa sejati. Hyang Widhi tidak pernah memaksa orang untuk berserah diri pada Nya. Penyerahan diri adalah hasil cinta kasih, cinta kasih Rohani. Apabila ada paksaan, tanpa ada kebebasan tidak mungkin ada cinta kasih. Cinta kasih ibu pada anaknya tidak ada yang memaksakan, tak pula sang Ibu mengharapkan upah untuk itu. Demikian pula kita mencintai Hyang Widhi dalam bermacam jalan, sebagai tuhan, sebagai atasan sebagai sahabat, sebagai anak atau suami. Ada lima Rasa atau hubungan dimana ketika memiliki hubungan kekal dengan Hyang Widhi. Ketika kita benar-benar telah mencapai pengetahuan dalam tahap pembebasan, kita mengerti ketika kita berhubungan dengan Hyang Widhi dalam tahap rasa khusus.  Setiap orang memiliki hubungan kekal dengan Hyang Widhi, baik sebagai atasan dengan bawahan, sahabat dengan sahabat, antara orang tua dan anak, suami dan istri maupun pula kekasih, segala macam hubungan tersebut bersifat kekal. Keseluruhan proses keinsafan sepiritual dan kesempurnaan Yoga yang sejati dimaksudkan untuk membangkitkan kembali kesadaran kita akan hubungan tersebut.  Pada saat ini hubungan kita tercermin sangat menyesatkan di dunia material ini. Di Dunia ini hubungan antara atasan dan bawahan didasari oleh uang dan paksaan atau ekploitasi. Dalam keadaan seperti itu , tidak ada pelayanan atas dasar cinta. Hubungan yang berdasarkan bayaran sangat tidak kekal, begitu bayaran berhenti hubungan juga berhenti, terjadi perselisihan sedikit saja hubungan bisa putus inilah dinia material itu. Begitu pula antara suami dan istri, perselisihan kecil aja sudah berakibat perceraian.

    Tidak ada hubungan sujati dan kekal di dunia material ini, kita harus ingat hubungan sementara begitu adalah hubungan pantulan timbal balik dari hubungan kita dengan Hyang Widhi.  Kita mengerti bahwa bayangan benda pada cermin tidaklah nyata,  Mungkin tampak nyata ,tapi begitu kita sentuh, hanya kaca yang kita raba, kita harus menyadarai hubungan kita  sebagai teman, ayah, ibu, bawahan dan atasan hanyalah refleksi-refleksi dari hubungan kita dengan Hyang Widhi.  Apabila kita mencapai tahap pengetahuan tersebut, maka pengetahun kita sempurna. Ketika pengetahuan itu muncul kita akan mengerti kita adalah pelayan-pelayan Hyang Widhi. Dan memiliki hubungan cinta kasih yang kekal dengan-Nya. Dalam hubungan cinta kasih ini imbalan tidak lagi dipersoalkan, namun tentu hadiah telah tersedia, yang jauh lebih berharga daripada apa yang kita terima di sini dengan cara melayani. Hadiah Hyang Widhi tak terbatas.

    Jika kita mempersembahkan sesuatau kepada Hyang Widhi, itu akan dikembalikan oleh Hyang Widhi berjuta-juta kali lipatnya. Tetapi hendaknya kita tak mengharapkan imbalan tersebut. Hyang Widhi  selalu membalas segala bhakti yang dilakukan oleh Hamba-Nya. Siapapun yang mengerti bahwa berbhakti pada Hyang Widhi adalah kewajibannya, maka pengetahuan orang tersebut sudah sempurna dan sudah mencapai kesempurnaan Yoga

 Membebaskan diri dari belenggu Dualitas dan sebutan dengan Yoga. 

Dunia material ini, penuh dengan dualitas , kita mengalami kepanasan saat musim panas, kita kedinginan saat musim dingin, atau suka ria pada suatu ketikan dan kesedihan yang amat dalam, suatu kali kita dihormati dan dilain hari kita dihina. Didalam dunia material ini sulit memahami sesuatu tanpa memahami kebalikannya. Tidak mungkin kita mengerti pujian tanpa mengerti apa itu hinaan. Begitu juga dak mungkin ngerti kesedihan tanpa mengerti kegembiraan. Dualitas semacam ini semestinya kita lampaui, namun semasih kita berada dalam badan ini dualitas itu akan selalu ada.  Jia seseorang terbebas dari konsepsi badan( bukan melepaskan badan), yang mengerti bahwa Aku bukan Badan, maka dia harus belajar cara-cara mentolering semua dualitas diatas. Dualitas diatas hanya disebabkan oleh badan, tak perlu gusar kalau kita ada menyakiti atau menghina.  Ada banyak yang harus dotolerir, namun jika kita mantap dalam kesadaran Hyang Widhi, maka segala dualitas itu menjadi tak penting lagi.

     Bagaimana cara kita mentolerir dualitas-dualitas itu,?

Seseorang dikatakan mantap, dalam dalam keinsyafan diri disebut yogi atau rohaniawan, apabila keinsyafan pengetahuan yang dia dapat memuaskan diri sepenuhnya. Orang seperti ini akan melihat kerikil, batu, emas. Sebagai hal yang sama, orang kaya, miskin, berkedudukan, cantik, jelek adalah sama. Tak terpengaruh dengan hal seperti itu.

   Dalam Yoga kita harus seimbang antara pengetahuan teoritis dan pengetahuan terapan, seorang Yogi dak hanya pintar berteori, tapi juga pintar dalam penerapan. Hanya berteori bahwa aku bukan badan, tapi dilain pihak penerapan tidak seperti itu, maka pengertian itu tidak ada hasilnya. Ada banayak perkumpulan yang sibuk membahas filsafat agama, tapi dia tak meninggalkan kebiasaan buruk seperti, alcohol, makanan enak-enak, dan judi dan umbar napsu seks. Spiritual seseorang tak akan terangkat hanya dengan teori saja. Pengetahuan harus dipraktekan , orang yang menginsyafi bahwa saya bukan badan, akan berusaha memenimalkan kesenangan badannya. Jika ada orang yang menerapkan ilmu spiritualnya dalam kehidupan nyata, inilah Yoga sejati., Orang yang tekun Yoga, akan punya pikiran mantap dan tak tergoyahkan oleh kehidupan material ini. Orang yang berhasil tidak akan tertarik dengan keindahan material, dia akan melihat sama antara batu dan emas, dia akan melihat sama antara orng jahat dan tidak. Mantap dalam pikiran tak tergoyahkan. Kita akan dapat melihat seluruh mahluk hidup dengan pikiran yang sama, tanpa dengan melihat dualitas diatas. Jika kita sudah berhasil dalam yoga, dak akan lagi melihat musuh dan teman adalah sama, sebab pada kenyataannya tak ada orang menjadi musuh atau teman  Ku, ayah ku, ibu ku, itu hanya atribut panggung sandiwara dalam dunia material ini, nama sesuai peran yang di jalaninya. Dalam sandiwara mungkin orang menjadi ayah, teman malah musuh , tapi diluar itu dia adalah orang yang sedang memainkan peran kehidupan material. Jadi dengan jalan Yoga kita akan lepaskan keterikatan kita pada level ini.

Dalam tahap ini, pelajaran Yoga Pasraman Markandeya Yoga, Yoga Healing Bali adalah pelajaran Tahap Pratyahara, yaitu tahap pencucian panca indra. Pelatihan konsentrasi akan dilakukan, seperti konsentrasi dan merasakan suara, konsentrasi dan merasakan Bau, Konsentrasi dan merasakan pengecap, konsentrasi dan merasakan Yantra, konsentrasi merasakan kepekaan kulit. Dengan melatih kelima indra dibawa kesadarannya di atas dwalitas, kita tak akan terombang ambing lagi oleh Dwalitas hidup material.

Tundukan Musush –musuh Dalam Diri Dengan Praktek Yoga.

Orang yang belajar mendalami ajaran spiritual seperti jalan Yoga hanyalah sebuah usaha mencapai kesadaran diri sujati. Jalan ini sangat berat karena kita sujatinya berperang melawan diri sendiri dan menundukan musuh yang sebenarnya muncul dari diri sendiri. Musuh ini bersemayam dalam pikiran dan menggerakan ucapan dan perbuatan manusia. Karena musuh ini bersemayam dalam pikiran manusia, maka musuh ini di katagorikan sangat berbahaya karena pengendaliannya jauh lebih sulit dari pada musuh-musuh yang ada di luar diri manusia.

Pikiran yang gelap dipengaruhi oleh musuh dalam diri yang akan mempengaruhi gerak indra untuk memenuhi kepuasan diri. Pemenuhan kepuasan tanpa kendali akan menyebabkan munculnya prilaku menyimpang dari ajaran susila. Pikiran gelap dari pengaruh ini, bukan saja akan merugikan orang lain, tapi juga akan menghancurkan diri Manusia itu sendiri dengan karakter buruknya. Karena musuh ini adalah penyakit bathin yang bersemayam dalam diri manusia , maka tidak ada seorangpun dapat mengendalikannya kecuali dirinya sendiri dengan selalu mencari pencerahan Jiwa dan mengusahakan kesucian hati. Untuk mengendalikan musuh musuh ini diperlukan usaha yang sungguh – sungguh dan konsentrasi secara berkelanjutan, karena tanpa adanya kemauan dan usaha yang tekun untuk menekan atau bahkan menghancurkan musuh musuh itu niscaya dalam kehidupan sifat sifat buruk yang akan mengendalikan kehidupan mereka, sehingga kesengsaraan akan menjadi pengalaman hidup mereka.

Pada hakekatnya setiap orang mempunyai potensi menjadi baik dan jahat, karena dalam diri manusia ada kekuatan ini yang selalu hidup dan saling bertentangan. Kekuatan baik yang mendominasi , sifat orang akan menjadi baik, kekuatan buruk yang mendominasi karakter orang akan menjadi buruk. Dominasi dari kedua kekuatan ini akan muncul dalam pikiran, kata –kata dan sikap perbuatan kita dalam hidup. Kalau sifat buruk yang menjadi musuh diri menang dalam diri kita, sudah di pastikan kita akan digiring dalam kesengsaraan dan kehancuran diri.

Secara umum ada enam sifat buruk yang menjadi musuh diri untuk di lawan dan di tekan kalau bisa di hancurkan antara lain:

  1. Hawa Nafsu.

 Nafsu keduniawian itu menimbulkan kegoncangan pikiran dan kegelisahan, oleh karena itu harus dimengerti sumber dari nafsu itu adalah pikiran, karenanya kendalikanlah pikiran sehingga nafsu keduniawian itu tidak merajalela. Orang yang selalu mengikuti kemauan indra –indra dalam hidupnya tidak mungkin akan pernah puas dan sulit akan mendapat kedamaian hati.

 Prathyahara , dharana dan dhyana Yoga adalah merupakan suatu desiplin kerohanian yang ampuh untuk mentolerir kemauan indra indra kita.  Dengan selalu berlatih dengan tekun dalam desipilin jalan ini, niscaya musuh yang berupa hawa nafsu akan dapat di tekan penagruhnya.

  1. Rakus.

 Orang yang di kuasai sifat rakus tidak akan pernah merasa puas, selalu merasa kurang dan kurang, gusar dan gelisah, kerena keinginannya terus bergejolak , maka akan berakibat orang seperti ini tidak akan menemukan ketenangan dalam hidupnya dan ketentraman dalam hatinya walaupun hidupnya secara materi telah berkecukupan. Orang yang rakus selalu perasaannya diselimuti oleh kecurigaan dan prasangka buruk pada orang lain sehingga dia sulit diajak bicara secara terbuka karena kelicikan selalu ada didalam hatinya dan selalu tumbuh keinginan untuk mengakali orang, menipu orang dengan berbagai cara baik langsung maupun tak langsung.

 Orang yang rakus tidak akan pernah bersyukur dan akan selalu ingin memperoleh yang lebih dari yang didapatkannya sehingga akan cendrung pelit dan kikir , selalu perhitungan dan ada unsure pamerih didalam setiap tindakannya. Sifat ini akan menghambat kehidupan social orang ini.

 Orang yang rakus adalah orang yang penuh kekurangan, walaupun dia secara materi berlimpah. Sesungguhnya ukuran suka dan duka, kaya dan miskin , baik dan buruk jangan dicari pada benda , semua itu ada dalam pikiran, jadi pikiranlah kuncinya. Jika pikiran dikendalikan , ketenangan bhatin akan muncul sebagai kunci yang dicari dalam tingkatan pendalaman sepiritual. Harta benda tidak akan kita bawa mati, walaupun kita jaga dengan sangat ketat menjaganya dalam hidup ini.

 Harta benda adalah sesuatu kekayaan materi yang tidak akan pernah membuat kekayaan rohani, malahan akan mengikat kita lebih kuat pada dunia material. Sikap rakus akan membuat hidup kita tidak mau mengalah dan egois, tak kenal takut dan main labrak dan cendrung cepat tersinggung. Sikap ini juga mengarahkan kita selalu menginginkan milik orang lain, suka menghayal dan berharap harap, Dan yang lebih parah lagi mereka akan lebih banyak bicara dari pada bekerja. Kebohongan , dusta akan menjadi prilaku sehari hari.

 Bhakti Yoga adalah suatu desiplin rohani yang sangat ampuh untuk menekan sifat ini. Dengan selalu melakukan puja bhakti kita akan semakin diarahkan .Semua adalah bukan apa –apa dan akan kita tinggalkan.

  1. Pemarah.

 Marah adalah sifat yang bisa muncul saat kita tersinggung, dilecehkan , dihina, dicaci maki, disindir, dibohongi dan lainnya. Kuncinya adalah ketidak siapan kita menerima sesuatu yang jelek yang kita dengar, lihat dan rasakan datang ke kita. Marah akan membuat dada kita panas, jantung berdebar-debar , aliran darah tidak lancar, mata merah, wajah kelihatan seram, kepala terasa berat, ulu hati terasa sakit, gemetar, omongan tidak terkendali, kalap dalam tindakan, orang akan mudah dimasuki jin dan setan dan mudah diasut oleh orang yang suka mengadu domba. Orang yang pemarah akan cepat tersinggung bahkan sering perkataanya menyakitkan hati atau menyinggung perasaan orang dan bahkan akan membawa kita menjadi pendendam. Semua orang tak suka sifat ini, karena akan membuat orang stress dan lebih cepat tua. Dan fisik akan sering sakit secara social tidak disenangi orang dan bahkan akan di benci dan dijauhi.

 Penyebab utama sifat pemarah in adalah penyakit tekanan darah tinggi, pikiran yang ruwet. Sumbernya makanan yang didapat dengan tidak bersih.

 Melakukan Tapa brata adalah jalan terbaik dan desiplin rohani yang ampuh untuk memerangi sifat ini. Lakukan terus menerus, niscaya, sifat ini akan lenyap. 

  1. Mabuk atau lupa diri.

 Orang yang mabuk adalah orang bersifat apatis , acuh tak acuh karena merasa diri kaya atau merasa diri keturunan ningrat/berkasta tinggi, merasa tampan, merasa sakti, atau merasa paling berani, paling pintar, paling suci atau bergelar akademis tinggi dan lain-lain. Sifat yang menonjol adalah sombong, angkuh, congkak, gila hormat dan priyayi, sering meremehkan orang, arogan, tidak tahu tata karma, dan tidak tahu sopan santun, selalu menganggap orang lain lebih bodoh dari dirinya, banyak bicara , ingin menguasai dan suka memerintah. Sifat seperti ini haruslah di jauhi dan dikendalikan, kita harus sadar akan hakekat hidup dimana segala sesuatu tidak kekal di dunia ini, Dan tidak bisa luput dari proses sakit, suka duka dan kematian. Ini akan berputar dalam hidup kita .

 Mabuk karena kekayaan menyebabkan orang sulit menghargai orang lain apalagi memperhatikan perasaan orang lain. Jika mabuk karena keturunan, dia akan lebih menunjukan sifat priyayinya, menganggap dirinya paling agung, tidak mau dilayani sembarangan harus sesuai tata karma yang dia mau. Dan mengharapkan orang lain menghormaitany dan melayaninya tak mengenal waktu dan tempat. Dia akan lebih senang bergaul mencari sorohnya, dan akan berusaha mencari silsilah keluarganya. Jika mabuk karena kepandaian akan melihat orang lain lebih bodoh darinya , ia suka menceritakan keberhasilannya saja dan kehebatan pengetahuan dan pengalamannya tanpa sadar bahwa kepandaian itu bersifat terbatas. Jika mabuk kedudukan atau jabatan ia akan membatasi pergaulannya hanya pada orang yang setingkat dengannya dan sering memandang sebelah mata pada orang lain apalagi bawahannya. Jika mabuk karena kecantikan atau ketampanan, maka dia mengaanggap dunia in adalah miliknya, dia merasa sebagai central dalam pergaulan.

 Orang yang tidak mengendalikan sifat -sifat ini makan jiwa dan hatinya menjadi kotor, maka iapun tak dihormati malah dijauhi orang lain.

 Melakukan Dhyana Yoga , belajar melepas segala keterikatan diri, akan berangusr angsur memperbaiki sifat ini. 

  1. Bingung dan Susah. 

Bingung dapat muncul dalam artian yang luas, baik karena materi, masalah keluarga, masalah leluhur, masalah kebodohan, masalah masyarakat yang intinya disebabkan kegelapan pikiran, sehingga perbuatan yang dilakukan sering di luar kesadarannya.

 Umumnya orang yang kebinguan tidak Tahu akan arah perbuatannya benar atau tidak benar, patut atau tidak patut karena imannya goyah dan tak punya prinsip hidup. Perasaanya sering gelisah, tidak percaya diri dan selalu menyalahkan orang lain jika ia berbuat salah.

 Dia tidak punya keyakian diri dan selalu terombang ambing oleh pendapat orang lain, jika dia mengalami jalan buntu terhadap masalahnya , bisa mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Orang yang bingung mudah di hasut dan di adu domba. Kebingunan yang mendalam akan membuat orang nekat mengorbankan apa saja miliknya untuk mencapai tujuannya. Inilah musuh diri yang berbahaya karena kegelapan pikiran. Kebingungan bisa mengenai siapa saja, tidak pandang kaya dan miskin, berpenididikan dan bukan. Orang yang mengalami ini membuat badan menderita cendrung sakit sakitan. Untuk menghilangkan sifat ini, tiada lain melakukan pendekatan diri kehadapan Hyang Widhi Wasa, dengan melakukan puja bhakti, Mantra Yoga dan bhkati yoga jalan yang sebaiknya ditempuh. Sehingga kita bisa menundukan musuh yang berbahaya ini. 

  1. Iri Hati atau Dengki. 

Adalah perasaan tidak senang, tidak rela melihat orang lain berhasil, melihat orang lain rukun, melihat orang kaya, melihat orang yang banyak mempunyai teman, melihat warisan banyak, cepat percaya pada omongan jelek orang tanpa mengecek kebenarannya.

Perbuatan yang paling berbahaya yang dilakukan oleh orang iri hati adalah  menfitnah, selalu menjelekan orang lain. Perasaan iri hati yang mendalam akan menyebabkan orang kehilangan akal sehat sehingga akan mencari upaya untuk mencelakai dan menyakiti orang lain, menipu orang , menghasut orang supaya banyak orang benci pada orang tersebut. Untuk menghilangkan sifat ini bisa latihan pranayama dan prathyahara, dharana dan Dhyana Yoga. Sehingga kita akan terhindar dari kehidupan yang merusak diri dalam hidup ini.

Ada Lagi Tujuh Kegelapan Pikiran yang sangat membahayakan manusia ( Sapta Timira )

JENIS JENIS ORANG MABUK BERDASARKAN SAPTA TIMIRA
BAGIAN-BAGIAN SAPTA TIMIRA

1. Surupa atau kemabukan (lupa daratan) karena wajah atau rupa yang tampan, ganteng atau cantik. Kegantengan atau kecantikan seseorang kadang kala menyebabkan yang bersangkutan menjadi angkuh, sombong dan tinggi hati. Semestinya kegantengan atau kecantikan wajah dibarengi dengan perilaku yang baik, budi yang luhur. Orang yang ganteng atau cantik, hendaknya dapat mengendalikan diri dengan membuang jauh-jauh sikap dan perilaku yang tidak baik.

2. Dhana atau kemabukan (lupa daratan) karena banyak mempunyai harta benda atau kekayaan. Banyaknya harta benda yang dimiliki sering kali menyebabkan seseorang menjadi lupa diri, menepuk dada, angkuh dan sombong dan tidak ingat dengan teman-temannya. Pada hal kepemilikan harta benda seyogyanya dibarengi dengan dharma, perilaku yang baik sesuai dengan ajaran agama. Karena itu orang yang memiliki banyak harta benda seyogyanya dapat menjaga diri, tidak menepuk dada atau tidak sombong dengan harta bendanya.

3. Guna atau kemabukan (lupa daratan) karena mempunyai kepintaran atau kepandaian. Orang yang pintar juga kadang lupa diri, menganggap orang lain tidak tahu apa-apa. Orang seperti ini cenderung angkuh dan kurang disukai oleh masyarakat. Oleh karena kepandaian semestinya dibarengi dengan perbuatan yang baik, disertai dengan budi pekerti yang luhur. Kepintaran semestinya diamalkan, dipergunakan untuk maksud-maksud yang baik, sehingga dapat membantu masyarakat yang kurang mempunyai pengetahuan.

4. Kulina atau kemabukan (lupa daratan) karena keturunan. Factor keturunan juga sering mengakibatkan orang lupa diri. Seorang keturunan bangsawan, keturunan raja, kadang kala juga menganggap remeh orang lain yang tidak seketurunan. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan bagi orang tersebut. Keturunan orang-orang terkenal, berpangkat atau bangsawan, sebaiknya mempunyai perilaku yang baik, berbudi luhur sejalan dengan ajaran agama. Mereka seharusnya dapat menjadi panutan dapat memberikan contoh yang baik terhadap masyarakat sekitarnya.

5. Yohana atau kemabukan (lupa daratan) karena masa remaja atau masa muda. Anak muda remaja karena kurang pendidikan dan pengalaman, sering kali lebih menyukai kebebasan dan hura-hura, sering kali sok jagoan dan suka berkelahi. Sebaikanya semasa masih remaja, anak-anak itu diberi pendidikan agama yang memadai, diberi pelajaran mengenai etika, bagaimana harus berperilaku di dalam masyarakat, sebagaimana harus membawa diri dan lain-lain, supaya mereka dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Masa remaja adalah masa yang baik untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat, bagi nusa dan bangsa serta agama.

6. Sura atau kemabukan (lupa daratan) karena minuman keras. Minuman keras merupakan musuh yang sangat buruk. Ia dapat membuat orang mabuk, lupa diri dan berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Karena itu manusia beragama sebaiknya menjauhi minuman keras.

7. Kasuran atau kemabukan (lupa daratan) karena merasa mempunyai keberanian. Keneranian kadang kala membuat orang lupa diri. Keberanian tanpa disertai dengan pikiran yang sehat dan baik

  Inti Sari  Ajaran Yoga Maha Yogi Rsi Markhandeya

    Merupakan sebuah fakta langkah maju entitas hidup ( Jiwa) menuju kesempurnaan Yoga, lahir dalam keluarga Yogi atau penyembah Hyang Widhi adalah anugrah besar, sebab kelahiran seperti itu akan memberikan dorongan khusus kepadanya.

    Tetapi apabila seorang Yogi tekun berusaha dengan tulus untuk mencapai kemajuan, maka setelah disucikan sampai lepas dari segala pencemaran, akhirnya setelah menjalani latihan selama kelahiran demi kelahiran, ia mencapai tujuan tertinggi, yakni Kesadaran Hyang Wdhi. Khusuk berpikir tentang Hyang Wdhi adalah adalah tingkatan yang sempurna. Setelah mengalami kelahiran dan kematian berulang kali, dia benar – benar berada pada pengetahuan akan berserah diri kepada Hyang Wdhi, dengan mengetahui bahwa Hyang Wdhi sebab dari segala sebab. Roh agung seperti itu sangat jarang adanya.

    Dari semua Yogi, dia yang selalu berada bersama Hyang Wdhi, dengan keyakinan yang besar dan bersembahyang kepada Hyang Wdhi dalam pelayanan cinta kasih Rohani, adalah yang paling dekat dan paling tinggi dari semuanya.

    Oleh karena itu puncak dari rentetan semua jenis Yoga terbentang dalam bhakti, yaitu mempersembahkan pelayanan suci kepada Hyang Wdhi. Sebenarnya semua jalan yoga bermuara ke sini, sebab Hyang Wdhi adalah Tujuan akhir dari semua jalan Yoga.  Dalam permulaan dari Hatha, tantra, karma, bhakti, mantra, yantra dan jnana Yoga merupakan jalan panjang menuju keinsyafan diri. Seseorang yang berada pada titik tertentu dan tidak mencapai kemajuan lebih lanjut dinamai cera khusus, Hatha yogi, Tantra Yogi, Karma Yogi, Bhakti Yogi, Mantra Yogi, Yantra Yogi, Jnana Yogi dan sebagainya. Akan tetapi orang yang sudah sempurna dalam Yoga, akan melampaui semua jalan itu, yang ada hanya kesadaran Hyang Wdhi .Kesadaran Hyang Wdhi adalah mata rantai terakhir dari semua rangkaian Yoga, Tanpa yang terakhir ini, semua rangkaian tersebut tak akan berguna. Orang yang tertarik pada kesempurnaan Yoga hendaknya segera mulai dengan kesadaran Hyang Wdhi, dan menjalani kehidupan dengan cinta kasih Hyang Wdhi.

Hyang Widhi Wasa adalah objek cinta yang tertinggi.

Bhakti adalah pelayanan suci. Setiap pelayanan mendorong orang untuk berkarma sebagai kesibukan. Ada dorongan dari hati setiap orang melakukan kesibukan. Karena itu setiap kesibukan dapat memberikan kenikmatan tersendiri kepada setiap praktisinya. Orang yang berumah tangga , didorong untuk bekerja siang malam karena rasa kasih sayangnya pada keluaganya sendiri. Seorang darmawan ingin meluaskan pelayanannya karena kecintaannya pada keluaraga yang lebih besar. Pendorong orang yang berumah tangga dengan orang yang darmawan untuk melakukan pelayanan disebut rasa, yaitu jenis hubungan yang memberikan kenikmatan. Namun ada bakti rasa kenikmatan yang berbeda antara orang berumah tangga dengan orang yang darmawan. Orang yang berumah tangga efek pelayanannya lebih kecil dibanding yang darmawan. Keluasan sentuhan pelayanan inilah yang membedakan. Rasa berbeda. Yang Satu mencari materi dan yang lain memberikan materi. Yang satu Menerima keterikatan Materi dan yang lain melepaskan Keterikatan materi. Kenikmatan yang didasari oleh materi bersifat sementara, karena dia selalu merasa tidak berkecukupan dan setiap hari harus selalu mengejar lagi. Karena selalu merasa tidak cukup sehingga dunia materi akan selalu membuat kita terombang ambing dalam hidup. Kalau kita mau sedikit menyadari semua asalnya adalah Hyang widhi, maka kita akan berjalan menuju asalnya karena asalnya akan tidak pernah kekuarangan. Bagaimana cara kita menuju asal  itu? Tidak ada cara lain memilih Hyang widhi sebagai objek pencarian yang tertinggi.  Bukan memilih alam ciptaanNya, berupa materi ini.

Penyembah Hyang Widhi merasakan kehadiran Hyang Widhi melalu Bhakti. Bhakti juga merupakan pelayanan cinta kasih Rohani kepada Hyang Widhi dan tidak pernah berakhir walupun kehidupan kita hari in berakhir.  Bhakti rasa tidak pernah mati itu kenapa disebut Berkat Amerta bagi praktisinya.  Guru Made Sumantra menegaskan ada kemajuan sedikit saja dari praktisi yoga dalam Bhakti Rasa akan menyelamatkan praktisi dari bahaya yang paling besar.  Masa depan harus kita persiapkan demikian rupa melalui kegiatan Rohani, karena setiap mahluk hidup yang terlahirkan kembali akan diberikan badan tertentu sesuai karma perbuatannya selama kegiatan pada badan yang dimiliki sekarang. Prinsip dasar kehidupan adalah cinta kasih. Tidak satu orangpun dapat hidup tanpa cinta kasih. Semua mahluk hidup punya naluri untuk saling menyayangi termasuk juga binatang yang paling buas sekalipun.

Dimanakah kita harus menempatkan cinta kasih supaya getarannya bisa dirasakan semua mahluk?  Jawabannya adalah tempatkan cinta kasih pada kesadaran Hyang Widhi. Dewasa ini umat manusia di ajarkan untuk mananamkan kecintaanya pada negaranya, keluargannya, atau saudaranya.  Namun selalu memberikan rasa yang kadang mengecewakan, karena masih ada reaksi positif negative yang selalu datang. Namun kalau kita menanamkan cinta kasih kita pada Hyang Widhi selalu, reaksi postif akan selalu hadir untuk diri kita bahkan semua mahluk hidup. Kita harus mulai menanamkan rasa bhakti kita padaNya, Karena DiriNyalah sebagai yang maha pengasih dan mengasihi semua mahluk, sehingga  kasih kita ikut bersamannya disebarkan ke semua mahluk dialam ini. “Semoga semua mahluk berbahagia”

OM Mantra penghubung umat Manusia menuju kesadaran Hyang Widhi.

Om adalah realitas mutlak. Hal ini dikatakan “Adi Anadi”, tanpa awal atau akhir dan merangkul semua yang ada. Om berada di luar batas, transendental. OM merupakan keutuhan alam semesta dan getaran suara abadi brahman (jiwa universal) yang menembus itu. Memang, Om disebut shabdabrahman, suara-bentuk brahmana. Om adalah silabel mistis atau sakral. Suku kata yang diambil terdiri dari tiga fonem, a, u dan m, dengan melambangkan Tiga Dewa (Trimurti) Hindu atau tiga tahap dalam kehidupan (kelahiran, kehidupan dan kematian). AUM mewakili energi ilahi (Shakti) bersatu dalam tiga aspek dasar: Bhrahma Shakti (penciptaan), Wisnu Shakti (pelestarian) dan Shiva Shakti (pembebasan).
 
Dalam Upanishad dan sutra:

Om terdiri dari tiga suara (sebuah-kara), u (u-kara), m (ma-kara). A-kara berarti bentuk atau bentuk seperti bumi, pohon, atau benda lainnya. U-kara berarti tak berbentuk atau berbentuk seperti air, udara atau api. Ma-kara berarti baik bentuk maupun tak berbentuk (tapi masih ada) seperti materi gelap di alam semesta. Ketika kita menggabungkan semua tiga suku kata kita mendapatkan AUM yang merupakan kombinasi dari A-kara, U-kara, dan Ma-kara.  

Menurut Upanishad Mandukya

Om baik atman dan brahman: itu adalah masa lalu, sekarang dan masa depan, serta semua yang melampaui waktu.  

Dalam Purana

Aum atau Om adalah nama mistik untuk Trimurti Hindu, dan merupakan serikat dari tiga dewa, yaitu. A untuk Brahma, U untuk Wisnu dan M untuk Mahadev yang merupakan nama lain Siwa. Ketiga suara juga melambangkan tiga Veda (Rgveda, Samaveda, Yajurveda).  
Om adalah mantra persetujuan. Ini berarti ya dan menegaskan dan memberikan energi apapun yang kita katakan setelah itu. Itu sebabnya semua mantra dimulai dengan OM. OM juga mantra pendakian dan menyebabkan energi kita untuk naik ke atas, ke yang tak terbatas. Dengan mengucapkan Om, seseorang memperoleh akses ke kekuatan alam semesta, dan meditasi pada Om dikatakan mengarah pada pencerahan dan keabadian. OM adalah luas dan meningkatkan unsur-unsur api, udara dan eter, terutama eter. Hal ini juga memberikan kekuatan, perlindungan dan kasih karunia.

Mengucapkan  Om dalam Japa secara berulang –ulang  adalah suatu Kesadaran Jiwa tingkat atas yang berupa suatu sistem perangkat latihan yang benar-benar secara nyata dapat memperbaiki dan meningkatkan moral, tubuh dan spiritual seseorang menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Melalui latihan Japa Om Pranawa, para praktisi dapat memperoleh kemajuan yang sangat pesat dalam kesehatan jiwa dan raga, demikian juga dapat menghilangkan stress.

Om Prenawa sebagai media meditasi dan penghubung diri dengn Hyang Widhi merupakan pengolahan ganda jiwa dan raga.
Pengolahan  raga berupa berbagai asana,  perangkat latihan gerakan yang menyerupai senam, dan meditasi. Fungsinya untuk mengolah potensi tubuh, membangkitkan energi di dalam tubuh, menyerap energi alam semesta dan memperkuat sistim mekanisme energi di dalam tubuh.

Pengolahan jiwa adalah meningkatkan Kesadaran Jiwa (watak, kualitas moral), dengan jalan berasimilasi (menyelaraskan diri) dengan karakteristik alam semesta yakni: Cinta kasih Semesta dan Sejati. Pengertian kata “Sejati” adalah benar, lurus dan jujur; dalam kehidupan sehari-hari, didalam rumah tangga, di tempat kerja, dalam masyarakat, harus menjadi seseorang yang bermoral tinggi yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan kewajibannya.

Om Prenawa adalah Spirit  energi tinggi yang mempunyai kecerdasan, berputar selama 24 jam setiap hari tanpa henti, otomatis membantu praktisi mencapai kesadaran tinggi. Sekalipun praktisi tidak setiap saat berlatih Meditasi Om Pranawa, tetapi Energy ini tetap tiada henti melatih manusia.

Penyebaran dan Perkembangan Meditasi Om Pranawa.

Meditasi Om Pranawa mulai dipublikasikan dan diberikan oleh Guru Made Sumantra pada Bhakta Pasraman Markandeya Yoga, Yoga Healing Bali,selanjutnya beliau pergi keluar negeri mengajarkan Meditasi di berbagai tempat didunia: Eropa, Asia, Amerika, Australia. Hingga sekarang, Meditasi ini sudah dilatih di berbagai negara oleh murid yang mengikutinya dan membawa manfaat positif bagi banyak orang. Untuk mengikuti Meditasi ini, silahkan dating ke Pasraman Markandeya Yoga .Yoga Healing Bali , Ubud, Jln Raya Lungsiakan, Kedewatan, Ubud, Gianyar. 

Guru Made Sumantra.

Guru Made Sumantra , adalah seorang warga Indonesia, Kelahiran Banjar Payogan, Ubud, Bali  yang telah memberikankan hadiah yang luar biasa bagi umat manusia ketika beliau memperkenalkan YOGA HEALING BALI yaitu Ilmu dan Seni Penyembuhan Yoga Tradisi Nusantra perpaduan tehnik olah tubuh, olah rasa dan olah jiwa dengan titik konsentrasi pada kesadaran Prana.Baerti  “Rakhmat bagi dunia” dan memang demikianlah beliau. Misi Guru Made Sumantra  adalah mengajarkan Penyembuhan dengan jalan Yoga Keberhasilan globalnya merupakan buah dari cita-cita luhur, usaha, stamina dan kemauan keras.

Guru Made Sumantra  adalah seorang Guru Penyembuhan Yoga Tradisi Bali  yang paling terkemuka di dunia. Sumbangan dan kepeloporannya dalam Seni Penyembuhan telah berhasil menyebarluaskan pemanfaatan ilmu Penyembuhan Yoga untuk meningkatkan taraf hidup umat manusia di seluruh dunia. Beliau telah mempelajari prinsip-prinsip eksoterik dan esoterik serta metoda penyembuhan, dan terus menerus melakukan eksperimen, penelitian dan pembuktian akan kemanjurannya. Beliau berhasil menggabungkan seni penyembuhan dan yoga menjadi ilmu pengetahuan praktis dan membuka pintu ilmu yang dahulu dianggap sebagai rahasia mistik. Guru Made Sumantra telah memiliki reputasi sebagai pribadi yang mampu mengubah prinsip-prinsip dan ritual mistik kuno menjadi ilmu pragmatis yang cocok diterapkan pada masa dan zaman ini.

Pelopor Ilmu dan Seni Penyembuhan Yoga Modern 

Guru Made Sumantra adalah salah satu dari Master yoga terbesar pada generasi kita. Dalam mengembangkan teknik-teknik penyembuhan yoga modern yang digunakan saat in.

Guru Made Sumantra  tidak hanya mempelopori teknik komprehensif yang dirancang untuk membersihkan dan memberikan energi pada tubuh fisik, sehingga mendorong kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri, bahkan dia mempelopori cara baru yang belum pernah digunakan sebelumnya agar dapat menjelaskan dengan seksama konsep yang ditemukannya. Beliau telah berhasil menunjukkan bahwa energi merupakan faktor penting dalam penyembuhan tubuh fisik, dan dengan menggunakan Psikoterapi Yoga, juga menyembuhkan gangguan kejiwaan.

Guru Made Sumantra memformulasikan sebuah sistem yang mudah dipelajari dan mudah digunakan, demikian sederhananya sehingga bahkan murid barupun dengan cepat dapat menyembuhkan penyakit sederhana, memungkinkan mereka memperoleh hasil positif dengan segera.

Murid-murid Guru Made Sumantra sungguh beruntung dapat belajar berbagai metoda mencapai sukses dalam kehidupan ini, dengan memanfaatkan teknik-teknik yang demikian efektif. Cara yang sangat manjur ini dengan jelas mencerminkan jangkauannya yang luas pada berbagai pemanfaatan energi dan pemahamannya yang mendalam pada kehidupan itu sendiri.

Melalui ajarannya, para murid mampu menciptakan keseimbangan dan mempertahankan keberhasilan dan keharmonisan. Beliau membimbing mereka melalui rentang kemungkinan pemanfaatan Yoga yang demikian luas yang melingkupi hampir semua segi kehidupan.

Pendiri Pasraman Markandeya Yoga,Yoga Healing  Bali. 

Sejak awal, begitu mempelajari Penyembuahn Yoga Tingkat Dasar, banyak orang langsung “jatuh Cinta” pada Penyembuhan Di Pasraman Markandeya Yoga, YOGA HEALING BALI, bukan hanya oleh tekniknya yang sederhana, mudah dipelajari dan bermanfaat saja, tetapi terlebih oleh ajaran pembentukan watak yang jarang dijumpai di tempat lain, banyak orang yang ditransformasikan ke arah yang lebih baik setelah mempelajarinya. Suatu peningkatan yang akan di rasakan setelah belajar di Yoga Healing Bali

  • Peningkatan kemampuan penyembuhan;
  • Memiliki kemampuan mental yang lebih tajam dan terorganisir;
  • Meningkatnya kedamaian batin, cintakasih-kebaikan dan belarasa;
  • Menjadi lebih toleran;
  • Meningkatnya hasrat untuk melakukan pelayanan spiritual;
  • Auranya menjadi lebih cerah dan seimbang dengan cakra-cakra yang lebih besar;
  • Meningkatnya kontak jiwa dan kebersatuan Ketuhanan;
  • Rangsangan yang aman pada kemampuan waskita;
  • Jasmani yang lebih sehat;
  • Kehidupan yang sukses dengan lebih sedikit stress
  • Serta kepribadian yang lebih baik.
  •    Peningkatan intuisi;

Guru Yoga

Sering kali orang bertanya-tanya, bagaimana seorang cerdas, pengusaha mandiri bisa menjadi seorang Guru yang tercerahi. Ini semua merupakan kelebihan yang menjadikan Guru Made Sumantra seorang Guru Spiritual yang unik di zaman modern ini. Tanpa henti, beliau melakukan perjalanan keliling dunia, mengajar orang dari semua profesi. Ajarannya telah menyebabkan perubahan kesadaran yang berarti pada murid-muridnya. Di akhir sebuah Kelas Yoganya, para muridnya bisa merasakan peningkatan spiritual, kesiagaan mental, keseimbangan emosi dan tingkat energi yang lebih tinggi. Metoda pengajarannya yang pragmatis, memungkinkan para muridnya menyerap pelajaran yang padat yang masih akan relevan sepanjang hidupnya. mereka tidak hanya mengalami peningkatan yang berarti dalam dirinya, namun ketika menjadi seorang pengajar, mereka juga bisa menularkan teknologi maju ini untuk merubah orang lain. Guru Made Sumantra telah mendidik para instruktur di seluruh dunia agar bersama-sama menyebarkan ajaran Yoga ini.

Negara yang Telah dikunjungi: 

  1. Nagoya Jepang, Energy Body Studio, 12 Juli 2007 memberikan pelatihan Guru Yoga. Balinese Yoga Teacher Training.
  2. Perth , Australia , Mallalo Beach  Club. 18 Mei 2008,memberikan Balinese Yoga workshop dan Bali usada healing workshop.
  3. Nagoya Jepang, Energy Body studio, 15 – 25 Juli 2009 memberikan pelatihan Guru Yoga, Balinese Yoga Teacher Training.
  4. Tangerang Carin Studio, 10 – 13 Oktober 2010. memberikan workshop penyembuhan energy, Dasa Vayu.
  5. Singapure, Pure studio  5 – 10 Nopember 2010 , memberikan Balinese Yoga workshop dan Bali usada healing workshop.
  6. Belanda,  23- 30  juni 2010 Tantra Yoga workshop.
  7. Paris, Prancis, 29 Mei – 12 Juni, 2012.

 Dan kegiatan sehari hari mengajar yoga dan mengajar penyembuhan di PASRAMAN MARKANDEYA YOGA, YOGA  HEALING BALI, Yayasan Windhu Siwa Yoga.Dengan alamat Banjar Lungsiakan, Kedewatan, Ubud ,Gianyar,  Dan Jalan Hayam Wuruk no 104 H Denpasar Bali.  Website:www.yogahealingbali.com, Email: balineseyoga@yahoo.com  Tlp: 62(361) 975650, Hp 087861187825.

 

 

 

 

 

 

 

SELAMAT DATANG
Di Website
YOGA HEALING BALI
Balinese Yoga Healing
And Training

Jajak Pendapat

Program Yoga Apa Yang Paling Anda Minati?

View Results

Loading ... Loading ...

Pengunjung

  • Today Visit: 106
  • Yesterday Visit: 462
  • Month Visit: 9659
  • Total Visit: 202238
ubudyogahealingcentre
denpasarypgahealingcentre

Facebook Kami

Jobs, Cars and Top Windows VPS, Cloud Hosting by http://www.accuwebhosting.com/ - rock solid VPS Hosting.